Baca juga: Hantu Pelakor – Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 11 Maret 2018)
Ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting!(Nada yang menghentak, meliuk, kejar mengejar. Mengentak lagi. Meliuk lagi. Masih terus kejar-mengejar. Entakan yang nyaring. Liukan yang dalam. Lalu mulai melambat, dan melambat dan melambat. Nada jeda yang tersengal.)
Tak ada waktu menginsyafi berapa lama Malka memainkan resital. Malka telah jatuh dalam keasyikan denting-denting, serupa darwis yang mabuk. Hingga sampai pada dentingan terakhir.
Ting! (Masih serupa entakan, tapi kelewat lembut.)
Malka menghentikan gerakan jemari dengan tangkas dan menyingkap mata. Sebuah not berhenti pada keheningan sempurna. Dan di bawah sana, segalanya telah rata. Puing-puing berselengkat menguapkan asap paling lembap. Peperangan telah usai. Segalanya telah usai. Benar-benar usai. Sebuah resital agung baru saja berakhir.
Malka menutup piano. Malka menutup piano. (44)
Malang, 2017-2018
Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di berbagai media. Kumpulan cerita terbarunya, Lumpur Tuhan, memenangi sayembara sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (2018). Kini bermukim di Malang.