Baca juga: Masjid-masjid Itu Menjadi Perahu – Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 20 Mei 2018)
“Aku akan memainkan! Sekarang! Dengan atau tanpa penonton. Lagipula pertunjukan resital bukan untuk ditonton, melainkan untuk disimak. Dan mereka akan menyimak di tengah keheningan peperangan… di bawah sana.”
Malka melangkah mendekati piano kesayangan, menarik bangku kayu panjang sedikit ke belakang dan duduk, mengambil posisi paling nyaman.
Malka menghela napas. Menyeru pelan suara sang atasan, memohon izin memulai resital. Tangan Malka berayun dan jemarinya bergerak runtun serupa lambaian.
Dan…
Ting!
Suara piano bertenting di tengah keheningan. Dari atas panggung. Hanya satu denting. Ting! Dan di bawah sana, hamparan tanah rekah. Ribuan dinding bengkah. Dan jutaan pohon rebah. Terkulai di tanah.
Malka telah siap dengan dentingan kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.
Ting ting ting! (Seperti nada pembuka yang mungkin akrab di telingamu.)
Tanah berguncang, kembali rekah, sebuah gunung menyemburkan magma, mirip bisul yang pecah memuntahkan nanah. Debu dan batu-batu api memenuhi udara. Serupa pesta kembang api.
Ting ting ting ting ting ting ting ting ting! (Untaian nada rendah yang nyaman.)
Tanah berguncang berulang-ulang. Langit bergemuruh. Topan menyambar. Angin membeliung. Mencerabut paksa pepohonan dan menerbangkan atap rumah-rumah. Membongkar gedung-gedung. Segalanya bertebaran, orang-orang berjumpalitan bak anai-anai.
Ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting ting ting! (Mulai merambat ke nada yang berkelok.)
Matahari tergelincir dari tempatnya. Tercebur ke cakrawala. Silih berganti. Melahirkan gulita. Sementara guncangan tak juga reda. Tanah makin menganga. Menelan segala apa yang dijunjung. Lautan surut dan kembali dengan ombak raksasa yang bergulung-gulung di ketinggian, membilas segalanya, meluluhlantakkan yang tak rata.
Dan Malka menikmati resilatnya. Malka memejamkan mata, terus menggerakkan jemari. Merajalela. Mengembara dari satu not ke not lain. Mengarungi satu nada ke nada lain. Tanpa partitur. Tanpa keraguan.