Resital Malka

Baca juga: Laki-laki yang Kawin dengan Babi – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 06 Mei 2018)

Namun, sampai jutaan tahun kemudian, para penonton masih saja sibuk berperang. Di mana-mana. Di rumah-rumah. Di atas dipan. Di pasar-pasar. Di jalan-jalan. Dan bahkan, di rumah ibadah. Sepertinya tak seorang pun peduli pada sebuah pertunjukan musik. Tak seorang pun tertarik menyaksikan sebuah resital. Tak seorang pun memiliki jiwa seni mumpuni. Malka menutup tirai merah di balik panggung, dan h a n y a butuh waktu beberapa detik untuk terenyak sebab suara ledakan dari bawah sana. Malka yakin, di bawah sana, seorang anak di bawah lima tahun telah menjadi yatim. Dan seorang perempuan dengan anak di bawah lima tahun segera menjadi janda yang menggelandang. Dan para gelandangan, mereka takkan memiliki waktu untuk menonton pertunjukan musik. Maka makin perang berlanjut, kian banyak gelandangan. Dan makin banyak gelandangan, akan membuat panggung resital itu kian sepi.

“Nasib sedang berkerja di bawah sana, aku akan menunggu, mungkin sebentar lagi sang atasan memberi instruksi,” ujar Malka sambil memotong kuku-kukunya yang telah meruncing. Kuku yang runcing tidak bagus untuk pianis sejati. Untuk gitaris atau harpis mungkin tak masalah, tapi untuk pianis tidak, terima kasih. Malka harus memotong kuku-kukunya.

Beberapa menit kemudian, sebuah jeritan melengking dari bawah sana, jeritan yang kesekian juta kali—Malka malas menghitung semenjak jutaan tahun silam. Barangkali seorang gadis kehilangan keperawanan. Atau seorang lelaki cabul dikebiri di muka umum. Atau bisa jadi seorang koruptor ditembak mati. Malka tak lagi terkejut atas semua itu, atas kejadian-kejadian aneh di bawah sana. Malka hanya perlu melongok dari balik tirai merah di belakang panggung. Memastikan para penonton memang belum siap—dan tak akan pernah siap, dengan pertunjukan musik jenis apa pun.

***

Malka melirik jam raksasa yang terus bekerja di belakang panggung. Mengingatkan Malka akan waktu yang tidak banyak. Malka ingin mengantuk, tapi Malka tak pernah bisa mengantuk. Maka, dalam keheningan yang tidak disangka-sangka itu, angin berdesir, sedesir, membawa sebuah pesan dari atasan.

Malka melirik jam raksasa sekali lagi, dan menghela napas, “Waktu mereka sudah habis! Waktu mereka sudah habis! Resital harus segera dimulai! Resital harus segera dimulai!”

Malka berdiri dengan wajah penuh guratan emosi. Merapikan setelan. Lantas membuka tirai merah lebar-lebar dan melangkah ke tengah arena. Kini, Malka telah berdiri di atas panggung. Di hadapan kursi-kursi penonton yang melompong. Di hadapan piano tua yang setia. Malka tersenyum ke arah kursi-kursi merah yang kosong itu. Membungkuk sejurus untuk memberi penghormatan pada orang-orang semu di hadapannya, orang-orang yang lebih menyukai perang dan tidak menyukai pertunjukan musik.

Arsip Cerpen di Indonesia