Baca juga: Hajar Aswad – Cerpen Zaenal Radar T (Media Indonesia, 21 Agustus 2016)
Kalau mau bagus, Markum harus memasukkannya ke sekolah swasta elite. Tapi, itu tak mungkin karena uang pangkalnya menjerat leher. Masuk sekolah negeri pun sebenarnya lumayan berat. Bukan cuma soal ongkos pulang dan pergi, melainkan juga untuk keperluan buku dan jajan sehari-hari. Bagaimana Markum mendapatkan uang itu? Semua ini tidak akan terjadi kalau gajinya sebagai pemain di salah satu klub liga amatir lunas terbayar, yang akhirnya menyatakan gulung tikar karena tidak lolos kualifikasi kompetisi Liga 1. Dan, dia tidak harus bermain di kompetisi kampung tujuh belasan seperti detik ini.
Markum sudah berdiri di dekat titik putih yang berjarak dua belas langkah pas atau tepatnya 11 meter dari tiang gawang. Markum mengumpulkan pecahan konsentrasi, menatap gawang yang lebarnya 7,32 meter dan tinggi masing-masing mistar sekitar 2,22 meter itu. Ia ambil bola yang tadi diletakkan wasit, lalu ia cium lebih dulu bola tersebut. Penjaga gawang lawan berjalan menuju bawah mistar untuk bersiap-siap menghadapi tendangan dua belas pas yang akan dilakukan Markum. Penonton semakin berteriak-teriak histeris memberikan dukungan, tetapi ada pula yang justru mengejek, berusaha untuk mengacaukan konsentrasi Markum yang sebenarnya memang sedang kacau.
“Ayo Markum! Kamu pasti bisa!”
“Hajar, Markuuummm…!!”
“Sikat, bleh!!”
“Alaa, nggak bakal masuk!!”
“Paling ke atas mistar!”
“Nggak masuk, nggak masuk, nggak masuk!!!”
“Gol! Gol! Goooool!!!”
“Tembak Markuuummm…!! Jam breeettt aeh, jebreettt!!!”
Markum masih memegang bola yang tadi diciumnya, lalu meletakannya dengan hati-hati pada titik putih dua belas pas. Markum lalu menghela napas panjang. Pikirannya kembali pada ingatan tentang mertuanya yang selalu marah-marah. Markum sudah sejak lama diminta untuk mengontrak rumah sendiri. Ini berkaitan dengan adik iparnya, Pilo Poly, yang akan menikah bulan depan. Kamar yang sekarang digunakan untuk istri dan anaknya sebenarnya kamar Pilo, yang mengalah tidur di ruang tengah. Bila Pilo menikah, dia meminta kamar itu dikembalikan untuknya.
Markum sendiri sebenarnya sudah tidak kerasan menumpang dengan mertua. Apalagi, mertuanya itu termasuk dalam katagori mertua cerewet. Setiap hari selalu saja mengungkit-ungkit keberadaanya. Kalau saja ia memiliki uang lebih untuk mengontrak rumah, tentu ia sudah memboyong anak dan istrinya pergi ke tempat lain. Sayang, manajer tim yang merekrutnya angkat tangan sewaktu tim semiprofesional tempat dia mengais rezeki dibubarkan.