Baca juga: Kiblat – Cerpen Zaenal Radar T. (Republika, 19 Desember 2010)
Markum masih memandang ke arah gawang yang dijaga penjaga gawang. Markum memikirkan bagaimana mengecoh penjaga gawang memuakkan ini. Yang Markum inginkan, ketika bola diarahkan ke bagian kiri, penjaga gawang melompat ke kanan. Atau sebaliknya. Ini seperti tendangan penalti yang dilakukan oleh pemain-pemain top mancanegara.
Tendangan dua belas pas alias penalti, meski berjarak sekitar 11 meter dari gawang, tidak berarti mudah. Sebab, tidak sedikit pemain-pemain kelas dunia yang gagal melakukannya. Pemain Italia yang saat itu berjaya di Juventus, Roberto Bagio, pernah gagal memasukkan tendangan penalti saat melawan Brasil di final Piala Dunia. David Beckham, kapten tim nasional Inggris yang pernah main di MU dan Real Madrid juga pernah gagal. Lionel Messi dan Christian Ronaldo juga pernah gagal baik di liga maupun di piala dunia. Kesebalasan Spanyol dikalahkan kesebelasan Korea Selatan dalam drama adu penalti memperebutkan semifinal Piala Dunia di Jepang-Korsel. Dan, masih banyak kejadian-kejadian lainnya dalam drama tendangan dua belas pas ini.
Dan, Markum berpikir, bukan tidak mungkin dirinya gagal menciptakan gol dalam tendangan dua belas pas yang akan segera ia lakukan ini. Wasit meniup peluitnya. Markum pun menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Markum kembali menatap mistar, siap melaju dan menendang bola ke arah gawang. Sesaat suara penonton tidak terdengar. Yang ada malah suara anaknya yang minta dibelikan tas untuk masuk sekolah awal bulan ini.
“Ayah, Dendy maunya tas warna biru ya, seperti punya Eko…”
“Iya, iya… nanti akan Ayah belikan….”
“Jangan bohong lagi lho, Yah…”
“Ayah janji, deh. Yang penting, Dendy doakan ayah yah, semoga pada pertandingan besok sore ayah menang dan bisa buat gol!”
“Iya deh! Pasti Dendy doain…”
Dalam pikiran seperti itu, Markum bertekad menyarangkan bola ke arah gawang. Saat wasit meniup pluitnya, Bismillahirohmanirrohiim. Markum segera menendang bola di titik putih itu. Penjaga gawang terkecoh. Bola masuk! Suara penonton bergemuruh. Tapi… bersamaan dengan itu, wasit meniupkan peluitnya dua kali. Wasit menganggap posisi penjaga gawang terlalu jauh dari garis mistar. Dan, penjaga gawang lebih dulu bergerak maju sebelum tendangan Markum tadi dilakukan.
Tendangan dua belas pas harus diulang! Beberapa pemain rekan Markum yang hendak protes dicegah oleh pelatih. Markum pun mengulang tendangan dua belas pas itu. Penjaga gawang yang diberikan peringatan keras oleh wasit kembali berdiri di bawah mistar. Wasit meniup peluitnya. Markum kembali bersiap-siap melakukan tendangan penalti ulang, mundur beberapa langkah, menarik napas dalam-dalam lagi, lalu melangkahkan kaki hendak menghajar si kulit bundar.