Tendangan Dua Belas Pas

Baca juga: Air Keramat – Cerpen Zaenal Radar T. (Republika, 2 Januari 2011)

Kalau sampai saat ini ia belum menjadi pemain profesional seperti pemain-pemain liga nasional lainnya, mungkin karena dirinya belum mujur saja. Sekalinya direkrut, apesnya tim malah bubar di tengah jalan. Selama ini Markum sudah berkali-kali mengikuti seleksi untuk bisa mengikuti kejuaraan sepak bola tingkat daerah, tetapi dia selalu tersisih. Entahlah, kehebatan tidak diikuti keberuntungan. Mungkin belum rezeki, begitu kata teman-teman terdekatnya.

Meskipun sudah berkeluarga dan memiliki satu anak, dan satu lagi yang masih dalam kandungan, Markum tak pernah berhenti berlatih. Markum pun selalu mendapat panggilan untuk bermain tarkam, tarikan kampung dari kampung lain. Mengingat ia memang sudah cukup dikenal sebagai pemain sepak bola yang akan bermain di liga nasional.

Tendangan dua belas pas ini akan menjadi penentu kemenangan tim yang membayarnya. Kalau Markum berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan pada tendangan dua belas pas ini, akan menjadi sejarah timnya menjuarai kejuaraan kali ini. Di tangan Markum-lah sejarah itu akan terukir.

Markum menatap ke arah gawang, di mana penjaga gawang yang berdiri di bawah mistar tengah bersiap-siap mengantisipasi tendangan dua belas pas yang akan segera ia lakukan. Penjaga gawang sempat memegangi tiang mistar sebelah kanan, lalu berjalan menuju mistar sebelah kiri. Setelah itu, ia berdiri tepat di bawah mistar sambil melompat-lompat meraih mistar atas gawang. Penjaga gawang lalu memberikan isyarat dengan tangannya, agar Markum selekasnya melakukan tendangan hukuman itu.

Wasit meniup pluit. Markum melangkah mundur beberapa langkah, dan bersiap melakukan eksekusi! Para penonton pendukung terus bersorak-sorak mengeluelukan, memberikan semangat, sementara penonton tim lawan terus semangat mengolok-oloknya. Beberapa rekannya berdiri di garis luar kotak penalti untuk bersiap-siap menghajar bola ke arah gawang jika bola itu kemungkinan bisa ditepis penjaga gawang, atau menyentuh mistar. Beberapa pemain lawan menjaga-jaga pemain tersebut, hingga saat tendangan dua belas pas akan segera dilakukan, rekan Markum terjatuh akibat adu badan yang dilakukan tidak semestinya itu. Wasit pun meniup pluitnya, meminta Markum menunda tendangan dua belas pas itu.

Wasit melangkah mendekati rekan Markum yang terjatuh, dan pemain lawan yang menjatuhkannya. Kedua pemain tersebut diberi peringatan. Keduanya diancam akan diberikan hukuman kartu bila mengulangi seperti yang baru saja mereka lakukan. Nyatanya, setelah wasit meninggalkan kedua pemain itu dan bersiap-siap memerintah Markum untuk melakukan tendangan penalti, kedua pemain tadi kembali saling mengadu badan. Tapi, tentu tidak sekeras sebelumnya.

Arsip Cerpen di Indonesia