Patung Batu Merah

Baca juga: Muazin Pertama di Luar Angkasa – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 27-28 Januari 2018)

Beberapa waktu lalu, Orang Daratan membuat masalah dengan kaum kami. Seorang pemuda dari Daratan diam-diam membawa lari anak gadis kaum kami. Peristiwanya memang tidak terjadi di pulau ini, tapi di daerah lain di mana kedua orang muda itu merantau. Meskipun begitu, kehormatan tetaplah kehormatan. Tetua kami merasa terhina oleh peristiwa itu. Mereka mengirim seorang utusan untuk membicarakan persoalan tersebut. Hasilnya, utusan kami ditemukan di suatu tempat dalam keadaan luka parah. Meski beberapa orang mengatakan bahwa utusan tersebut sempat mampir di kedai minum sebelum terlibat perkelahian dengan pengunjung lain, tetua kami sudah memutuskan bahwa Orang Daratan penyebab semuanya dan karenanya secara langsung telah menghina dan bahkan menantang perang kaum kami. Kami dipanggil untuk ikut musyawarah. Upacara yang sedang berlangsung ini adalah bagian dari persiapan perang.

Kami menumpang kapal laut, singgah di beberapa bandar sebelum sampai ke Lahamalo. Perjalanan yang jauh dan melelahkan, selain harus berhadapan dengan para copet dan penipu yang berkeliaran di kapal dan bandar. Aku tahu, bapak tidak tertarik dengan urusan-urusan adat. Bapak seorang yang berpikiran rasional dan memilih merantau sebagai cara untuk menjalani hidup. Sebagian dari sifat dan cara berpikir bapak itu menurun padaku, meskipun aku tak begitu akur dengan dia. Di masa mudanya, bapak suka bermain sandiwara. Biasanya saat perayaan Paskah, bapak akan bertindak sebagai sutradara dalam pementasan merayakan kenaikan Isa ke surga. Meskipun bukan seorang Kristen, bapak sering diundang untuk mengikuti pementasan dengan pelakon para pemuda anggota jemaat. Aku tidak pernah melihat bapak naik panggung, tapi dari caranya bicara serta gestur tubuhnya aku bisa merasakan jejak-jejak seorang seniman panggung.

“Kita perlu penghasilan tetap supaya bisa hidup layak. Kalau Bapak tidak berhenti main sandiwara, mungkin kamu tidak akan ada. Kalaupun ada, paling-paling cuma jadi nelayan atau gembala. Tidak bisa kuliah dan mengerti teknologi seperti sekarang. Meski kuliahmu sendiri tidak beres, tapi setidaknya kamu tidak menghabiskan usia di kampung ini,” ucap bapak. Kami sepakat untuk diam-diam menjauh dari keramaian upacara itu. Duduk di tanah yang agak tinggi dan tersembunyi, melihat dari kejauhan upacara yang terus berlangsung. Dari tempat tinggi ini, kami bisa melihat pemandangan di kejauhan. Laut tenang yang membentuk garis horizon, punuk-punuk bukit, perumahan di kampung-kampung, serta bangunan-bangunan perkantoran. Awan-awan domba mengapung di langit biru seperti gumpalan-gumpalan kapas.

“Kamu tahu, kalau pamanmu meninggal, Bapak yang harus menggantikannya sebagai Kepala Kaum,” ujar bapak sambil menatapku. Pandangannya seakan-akan mewakili kelanjutan kalimat itu; setelah bapak akulah yang akan menjadi Kepala Kaum. Ayi Kaka punya dua anak dari dua istri. Dari istri pertama, dia mendapat seorang anak yang tak mungkin menjadi Kepala Kaum lantaran ia adalah perempuan. Dari istri kedua, dia memang mendapat seorang anak laki-laki, tapi sejak remaja anak itu hilang entah ke mana. Benar-benar hilang bagai diisap angkasa. Beberapa orang menduga anak laki-laki itu memang diambil oleh dewa-dewa. Sebagian lain menduga anak itu dijadikan tumbal untuk kesaktian Ayi Kaka. Tapi aku pikir anak itu mungkin sudah mati tenggelam di laut. Kedua istri Ayi Kaka sudah meninggal pula, sedangkan anak perempuannya menikah dan sampai sekarang masih tinggal di kampung ini.

Arsip Cerpen di Indonesia