Patung Batu Merah

“Waktu dulu Paman terkena kasus penipuan, pasti Bapak yang membantunya agar lepas dari hukuman, iya kan?” tanyaku. Bapak tidak menjawab. Kami berdua menatap ke bawah, ke arah tempat berlangsungnya upacara. Lingkaran orang-orang itu sudah terlepas. Sekelompok anak muda pilihan yang disebut Kelompok Burung Hitam bernyanyi dan memainkan alat musik. Salah seorang di antaranya meneriakkan bunyi-bunyi burung liar. Rambut pemuda itu kribo, dia melompat-lompat seperti kesetanan. Paman terlihat celingak-celinguk seakan sedang mencari seseorang. “Itu, Bapak dicari,” kataku.

Baca juga: Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang? – Cerpen Kiki Sulistyo (Jawa Pos, 24 Desember 2017)

Ayi Kaka sudah telanjur dikenal sebagai orang sakti. Sejumlah orang bersaksi mereka pernah melihat Ayi Kaka terbang, meluncur dengan kaki tak menyentuh tanah. Sewaktu masih bekerja di perusahaan minyak, Ayi Kaka diperdaya oleh seorang rekan bisnisnya hingga mendapat dakwaan penipuan. Entah bagaimana ceritanya, Ayi Kaka urung dibui. Dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena masalah di ginjalnya. Sejak saat itu, dia harus cuci darah secara berkala.

“Kalau dia jadi dibui, pastilah Bapak yang sekarang berdiri di depan batu itu,” ujar bapak. Tiga orang bocah tampak menunjuk-nunjuk ke arah tempat kami duduk, lalu sesaat kemudian berlari-lari, mendaki tanah tinggi ke arah kami. “Saya kira sekarang Bapak tak bisa lagi menghindar. Barangkali Paman sudah lelah, ingin istirahat dan menjalani hari tuanya dengan tenang,” ucapku. “Pamanmu merusak ginjalnya sendiri waktu itu. Sampai sekarang Bapak tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Memang Bapak sempat ikut membiayai perawatannya, tapi tak lama. Setelah itu Bapak tidak tahu lagi. Karena dia terbukti sakit, orang yang menuntutnya mau tak mau harus setuju berdamai,” kata bapak. “Tapi aneh juga dia masih hidup sampai usianya sekarang,” ucapku menegaskan. Ayi Kaka kukira sudah berusia lebih dari 70 tahun.

Tiga bocah itu terus mendaki, suara panggilan mereka terdengar sampai tempat kami duduk. Di dekat patung batu merah itu sudah tidak ada orang. Kelompok Burung Hitam sudah selesai dengan nyanyian perangnya. Bila aku tetap bermukim di Lahamalo, pastilah aku menjadi bagian dari kelompok ini. Mungkin aku akan berada di posisi si kribo itu. Ayi Kaka dan yang lain rupanya sudah masuk ke rumah adat di mana orang-orang berkumpul untuk memulai musyawarah. Aku perhatikan patung batu merah itu, tak terjadi perubahan apa-apa, ia tetap tampak kecil dari kejauhan. Tidak seperti kata orang-orang yang bilang bahwa patung batu itu akan tampak demikian tinggi dan besar apabila dilihat dari kejauhan. Makin mendekat, patung batu itu akan makin mengecil, hingga ke ukuran aslinya.

Arsip Cerpen di Indonesia