Patung Batu Merah

Baca juga: Mawar Ungu Aulia Sulhani – Cerpen Kiki Sulistyo (Jawa Pos, 20 Mei 2018) 

“Siapa yang memperlakukan utusan kita hingga sampai begitu parah lukanya, bukankah mereka Orang Daratan juga?” tanyaku.

“Memang Orang Daratan, tapi waktu itu mereka sama-sama mabuk dan pemukulan itu tidak ada hubungannya dengan kasus kawin lari.”

“Terus Paman bilang apa?”

“Seperti katamu, pamanmu sudah capek dengan hidupnya, dengan semua yang dia alami, dengan statusnya sebagai Kepala Kaum, juga dengan orang-orang yang menganggap dia sakti. Sesungguhnya, pamanmu tidak sakti sama sekali.”

“Kenapa para tetua ngotot mau berperang?” tanyaku lagi. Bapak mengembuskan napas berat. “Urusan perkawinan Bapak dengan ibumu itu rupanya belum selesai. Mereka, terutama para tetua, masih belum bisa menerimanya. Kehormatan adalah kehormatan. Hidup bisa dikorbankan demi kehormatan. Peristiwa sekarang ini membangkitkan lagi persoalan lama yang tampak sudah selesai tapi kenyataannya masih jadi bara dalam sekam. Itu hal yang tak bisa Bapak pahami. Bapak merasa tidak cocok hidup di sini.” Ia beringsut sedikit dan menunjuk ke bawah, “Kamu lihat batu itu? Bagaimana mungkin benda semacam itu dianggap sebagai pelindung?” Patung batu merah sudah tertancap di tanah, konon, sejak beribu tahun lalu. Tiap ada perayaan; panen, musim ikan, dan perkawinan, orang-orang mengadakan upacara, mengucap mantra-mantra, dan melontarkan doa ke atas sana. Tapi patung batu merah itu hanya akan dilibatkan bila menyangkut peristiwa besar seperti adanya bencana dan peperangan.

Tiga bocah itu telah sampai di depan kami, napas mereka ngos-ngosan. Salah satu yang bertubuh paling gemuk, dengan terbata-bata berkata, “Paman dipanggil Ayi Kaka ke sana. Katanya sudah mau mulai,” Bapak berdiri, “Iya. Ini Paman mau turun,” ucapnya. “Ayo, sama-sama, Paman,” jawab bocah gemuk. Bapak menatapku, aku tersenyum dan berkata, “Saya tahu dulu Bapak pemain sandiwara, tapi Bapak jangan bermain sebagai korban, Bapak itu pelaku utama.”

“Sial,” kata bapak. “Kamu tidak ikut? Ayo, temani Bapak.”

“Tidak,” kataku. “Saya mau lihat-lihat pemandangan.”

Ketika bapak dan ketiga bocah itu bergerak turun, aku sempat mendengar bocah gemuk itu bertanya, “Jadi kita akan perang, Paman?” ia kelihatan bersemangat, seakan perang sama dengan permainan. Aku memalingkan pandangan, melihat pemandangan di kejauhan. Laut tenang yang membentuk garis horizon, punuk-punuk bukit, perumahan di kampung-kampung, serta bangunan-bangunan perkantoran. Awan-awan domba mengapung di langit biru seperti gumpalan-gumpalan kapas. Bapak dan bocah-bocah itu makin mengecil. Aku mengarahkan pandangan ke patung batu merah. Benda itu sekarang kelihatan lebih besar dan tinggi, tidak seperti tadi. Kupicingkan mata seakan tak percaya. Dapat kusaksikan patung batu merah itu membentuk satu sosok. Makin kuperhatikan, makin yakin aku bahwa sosok itu adalah sosokku sendiri.

 

(Kekalik, 2018)

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Pada 2017, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? Bukunya yang terbaru adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia