Sesungguhnya patung batu merah itu nyaris tak membentuk sosok apa pun. Namun, konon kata orang, jika diperhatikan dari jarak tertentu, kita akan melihat patung itu dengan bermacam-macam bentuk. Kadang sosok seorang tua berjanggut, kadang bentuk seekor harimau, kadang juga seperti sebatang pohon. Para tetua bilang, patung batu itu diturunkan dari angkasa pada suatu masa yang tak bisa dikira-kira. Dewa-dewa telah menurunkannya untuk menjaga Lahamalo dari bala dan bencana. Juga memberi petunjuk pada kaum kami. Jika seseorang melihat patung batu merah itu berbentuk sosok atau makhluk tertentu, itu adalah pertanda yang harus diperhatikan, lantaran menyangkut nasib dan masa depan.
Dahulu, kaum kami adalah kaum utama di pulau ini. Mereka adalah manusia-manusia terpilih. Namun para pendatang kemudian tiba, yang sebagiannya adalah pedagang, sebagiannya lagi pelarian. Mereka membentuk koloni, mengawini penduduk setempat, dan beranak pinak membangun permukiman-permukiman. Sekarang, kaum kami yang masih murni hanya bermukim di Lahamalo, kawasan paling timur pulau, diapit oleh laut dan perbukitan.
Berkembangnya kehidupan para pendatang, bukan hanya membuat persaingan merebut lahan kian keras, tapi lebih jauh lagi menimbulkan berbagai peperangan. Makin lama, jumlah kaum kami kian menyusut. Para tetua risau, Kepala Kaum juga risau. Lalu, pada suatu waktu, diadakanlah satu upacara besar. Saat itu mereka menyadari, sudah sekian lama mereka melupakan kehadiran patung batu merah di tengah-tengah mereka. Pada upacara besar tersebut, mereka menyembelih banyak hewan ternak untuk dijadikan persembahan bagi dewa-dewa. Kain hitam-putih dijahit dan disucikan, lantas dipergunakan untuk membungkus patung batu merah itu.
Sekarang, kain itu dibuka lagi. Perang akan segera terjadi, tak ada yang bisa menghalangi, kecuali kedua kaum yang berseteru.
Tiga bocah itu makin dekat dan melihat ke arah kami sembari terus berseru-seru. Semak-semak menyematkan biji-bijinya di celanaku yang sedikit basah oleh sisa embun. “Mereka pasti saling mencintai. Mereka kawin lari karena tahu akan sangat sulit mendapatkan restu. Dulu, Bapak juga begitu. Kamu tahu, ibumu itu Orang Daratan. Kami sulit mendapatkan restu, tapi Bapak tak mau gegabah. Untunglah Kepala Kaum saat itu bertindak bijaksana hingga tak sampai terjadi perang. Itu makanya ibumu tidak mau ikut kemari. Ah, kalau saja anak muda itu mau sedikit bersabar, semuanya mungkin akan baik-baik saja,” kata bapak.