Rasa payah mulai hinggap di bahu dan pinggulnya. Langkahnya mulai terasa berat. Ia duduk di pematang. Memandang hamparan ladang garam. Tiba-tiba dadanya terasa perih bagai cacar air di kakinya saat menginjak butiran garam. Ia teringat bapaknya. Semenjak bapaknya meninggal, segalanya terasa lebih sulit. Apalagi, ibunya menjadi sakit-sakitan.
Samar-samar Dul Karim masih bisa mengingat kata-kata bapaknya dulu. Kini, ia baru bisa mencerna kata-kata itu, “Bertani garam harus berani pedih, Nak. Bila hujan turun kau bisa hancur, belum lagi permainan para pengepul. Kita tak boleh menyerah, terus berusaha. Satu-satunya kekuatan yang harus kita miliki sebagai orang miskin adalah keyakinan. Ingat, menjadi orang baik sebuah pilihan. Bila kita mati itu takdir.”
Kedua mata Dul Karim terasa panas. Dadanya semakin bergolak. Ia ingin bapaknya hidup lebih lama sehingga ia bisa belajar banyak hal. Dulu, selepas pulang sekolah ia sering diajak bapaknya ke ladang untuk memperbaiki tanggul: mengambil lumpur di ladang berair untuk menambal tanggul sampai tebal dan lebih tinggi agar tak mudah jebol.
Baca juga: Perempuan XXX – Cerpen Abul Muamar (Republika, 18 Februari 2018)
Segala yang pernah terekam matanya kini melintas di kepalanya. Ia teringat saat baaknya mengajari cara bertani garam dan membuat kincir angin. Bapaknya sangat telaten. Ia melihat bagaimana bapaknya membuat kincir angin dari rangkaian pipa peralon, papan kayu, besi, laker, dan ban bekas.
“Dulu kakekmu yang mengajari bapak membuat kincir angin seperti ini,” kenang Dul Karim pada bapaknya, “Begitu juga cara bertani garam.”
“Memangnya benda ini untuk apa, Pak?” tanya Dul Karim polos. Waktu itu ia baru masuk sekolah dasar.
“Dengan kincir angin ini kita bisa menghemat tenaga, anginlah yang bekerja,” ujar bapaknya, “Benda ini bisa memompa air baku yang mengalir langsung dari laut lewat kanal kecil ke ladang garam kita. Setelah air di ladang sudah cukup, kita ikat kincir angin ini dengan tali, supaya berhenti memompa air.”
“Lalu, siapa yang menciptakan angin, Pak?”
“Allah yang menciptakannya, makanya kita tak boleh lupa bersyukur.”
Kemudian Dul Karim memejamkan mata dan mengangkat kedua tangan mungilnya di dada, persis menirukan bapaknya saat berdoa sehabis shalat. “Terima kasih ya Allah, Engkau telah meringankan pekerjaan bapakku.”