Haji Manap

Haji Manap juga berjasa membentuk sebuah organisasi di desanya. Ia juga dikenal baik oleh banyak orang. Ia sangat vokal membela masyarakat. Bahkan, ia tak segan-segan mengajak para petani garam demonstrasi di gedung pemerintahan. Bahkan, beberapa bulan sebelum pemilihan kepala desa, ia digadang-gadang maju di pilkades. Masyarakat di desanya yang mayoritas petani garam mendukungnya.

Sial, petaka itu justru terjadi dan segalanya berubah. Waktu itu Dul Karim sudah mondok di sebuah pesantren, yang juga menaungi MTs tempat ia mengenyam pendidikan. Pagi-pagi sekali pengeras suara di menara masjid memanggil Dul Karim karena ada familinya datang. Ia bergegas ke ruang tamu pondok. Marsuk, saudara bapaknya sudah duduk menunggu.

“Tumben, bapak ke mana, Man?” tanya Dul Karim sambil bersalaman.

“Kamu harus tabah, Dul. Keluargamu dapat musibah, bapakmu meninggal,” jawab pamannya sambil merangkul tubuh Dul Karim.

***

Sejak bapaknya meninggal, Dul Karim memendam rasa dendam. Celurit yang digantung sungsang di tiang bambu gubuknya itu siap memberi perhitungan kepada orang yang membunuh bapaknya. Ia selalu membawa celurit itu ke manapun ia pergi.

Namun, ia tidak tahu siapa yang bakal ia tebas lehernya. Ia tak tahu siapa yang membunuh bapaknya. Sedangkan Mbak Sri, orang yang mungkin dapat memberinya keterangan, menghilang sejak peristiwa itu. Tak ada seorang pun yang tahu. Apakah Mbak Sri masih hidup atau sudah meninggal.

Baca juga: Mahar yang Tertinggal – Cerpen Krismarliyanti  (Republika, 31 Desember 2017)

Orang-orang yang dulu dekat dengan keluarganya kini menjauh. Ia dan ibunya dikucilkan warga.

“Tidak apa-apa, Nak,” jawab ibunya saat ia mengadu kalau orang-orang menjauhinya.

“Aku tidak terima diperlakukan seperti ini, Bu. Aku juga perlu tahu siapa dalang dari semua ini.”

“Tak usah kamu pikirkan itu,” ibunya mendinginkan suasana.

“Aku masih sakit hati, Bu. Aku tak akan tenang sebelum menemukan pembunuh bapak,” geram Dul Karim.

“Ya, ibu mengerti. Ibu juga merasakan hal yang sama, Nak, tapi tak usah ada dendam. Biar hukum Allah yang membalasnya.”

Sekujur tubuh Dul Karim gemetar, ia marah. Air matanya pecah, begitu juga ibunya. Mereka berpelukan dalam tangis.

Arsip Cerpen di Indonesia