Lelaki di Bukit Temung

Aku terperanjat. Lelaki itu sudah berdiri di hadapanku, matanya bersinar lebih lunak.

“Kenapa kau masih bertanya?” balasku kesal.

“Kalau begitu kau harus ikut aku,” katanya seraya pergi ke motornya yang parkir di halaman kafe. Saat aku terdiam bingung, ia sudah menyalakan motornya sambil berseru. “Aku tidak pernah menawarkan kesempatan kedua.”

Aku menyambar tasku buru-buru, lalu berlari ke motornya. Beberapa menit kemudian ia membawaku membelah jalan-jalan di perbukitan tanpa aku tahu tujuannya. Senja telah menjadi gelap dan langit berselimutkan bintang ketika motornya berhenti di puncak tertinggi Takengon.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanyaku.

“Sebelum menulis tentang kopi, kau harus mengenali dataran tinggi ini dengan baik. Karena kopi dan dataran tinggi ini satu nyawa.”

Aku mengedarkan pandang. Dari tempat ini aku bisa memandang gemerlap lampu kota di kejauhan. Sejenak aku terpukau oleh pemandangan yang tersaji di hadapanku. Dataran tinggi ini sangat menawan, mengingatkanku pada salah satu panorama cantik yang pernah kujelajahi di belahan dunia yang lain.

“Aku membuatkan kopi untukmu, ini aku racik khusus untuk perempuan,” katanya sambil mengeluarkan termos kecil dari ranselnya. “Kau harus minum ini.”

Aku membayangkan kafein itu akan bekerja dengan dahsyat seperti sebelumnya. Aku akan gemetaran, asam lambungku naik, pedih menikam ulu hati, lalu darah menetes dari luka-luka di dinding lambungku. Tapi aku tak bisa menolaknya. Memang sebaiknya aku tak menolak kemauan laki-laki keras kepala ini jika aku masih ingin menulis tentang kopi.

“Kopi arabika memiliki kafein lebih rendah, semoga lambungmu aman.”

Aku meminum secangkir kecil kopi buatannya. Aku mengecapnya sedikit. Rasa kopi yang lembut tanpa gula membuatku ingin merasakan lebih banyak. Kalau semula aku hanya ingin pura-pura minum kopi di depannya agar ia mau bicara tentang kopi, kenyataannya justru sebaliknya. Aku menghabiskan satu cangkir kecil kopi buatannya.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Aku belum pernah minum kopi tanpa gula tapi terasa lembut seperti ini.”

“Kau perlu mencobanva lebih banyak lagi.”

Aku mengangkat bahu. “Jadi… kau siap bercerita tentang kopi padaku?”

“Aku sudah cerita padamu.”

Arsip Cerpen di Indonesia