Lelaki di Bukit Temung

“Belum. Kau belum menceritakan bagaimana kau memilih kopi untuk kafemu, bagaimana kau meracik kopi untuk pelangganmu, dan bagaimana kau mencintai semua ini.”

Lelaki itu mendadak gelisah. Aku melihat samar-samar bulir keringat menyembul di pelipisnya. Matanya memandang gemerlap lampu kota di kejauhan dengan nanar, lalu beralih ke jam tangannya yang menyala di kegelapan.

“Seseorang akan datang, aku harus kembali,” katanya.

“Siapa?”

“Seseorang.”

“Tapi… kau belum bercerita tentang kopi padaku.”

“Aku tidak punya banyak waktu. Aku akan mengantarmu ke penginapan sekarang, tolong cepat!” jawabnya.

Aku tidak memiliki pilihan lain kecuali bergegas naik ke boncengan motornya. Masih ada esok untuk mengejar ceritanya sebelum aku putus asa dan memutuskan tidak kembali ke kantor sialan itu.

***

MATAHARI belum tinggi saat aku berjalan menuju kafe. Aku belum menyerah.

“Maaf, hari ini kafe tutup,” kata lelaki tua asistennya menyambutku di pintu kafe.

“Kenapa tutup, Pak?”

“Hari Selasa kami memang tutup,” jawabnya tersenyum ramah.

“Saya ingin bertemu pemilik kafe. Apa bisa?”

Lelaki tua itu menoleh ke arah hutan di seberang kafe. “Sejak semalam dia ke hutan belum kembali.”

Aku tertegun. Mendadak aku teringat kata-katanya semalam dengan raut muka gelisah dan keringat yang menyembul di pelipisnya. Tetapi, siapa tamu yang hendak ia sambut dengan masuk hutan semalaman?

“Apa Bapak bisa mengantar saya menyusulnya ke hutan?” tanyaku.

Lelaki tua itu tampak ragu. “Sebaiknya kau menunggu di sini saja. Menjelang senja biasanya dia kembali.”

“Kalau begitu, saya akan menyusulnya sendiri,” kataku berbalik meninggalkan pintu kafe.

“Tunggu!” Lelaki tua itu mengejarku. “Biar saya antar.”

Arsip Cerpen di Indonesia