Lelaki di Bukit Temung

Jarak dari kafe ke hutan hanya sekitar seratus meter, tetapi kami harus melewati jalanan menanjak Bukit Temung. Begitu tanaman kopi di hutan mulai terlihat, lelaki tua itu menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak gelisah.

“Saya hanya bisa mengantar sampai di sini,” katanya. “Dia tak akan suka melihat siapa pun datang ke hutan pada hari Selasa.”

Setelah dia menutup mulutnya sekian lama untuk bicara tentang kopi padaku, sekarang ia tak suka siapa pun datang ke hutan pada hari Selasa. Omong kosong macam apa lagi ini?

Aku mengangguk, lalu melangkah memasuki hutan. Udara sejuk berembus pelan menerpa tubuhku. Di kejauhan, Danau Lut Tawar tampak cemerlang tertimpa matahari setinggi galah. Aku terus berjalan menyisir tepi barisan tanaman kopi yang daunnya melambai tertiup angin.

“Jangan sedih, besok dia pasti pulang menemuimu. Tetaplah berbuah, tetaplah bermanfaat. Aku akan merawatmu sampai dia pulang…” suara itu menghentikan langkahku.

Aku menoleh ke samping kanan dan mendapati lelaki itu sedang duduk bersimpuh di depan satu tanaman kopi yang sudah tua. Jemarinya yang kokoh mengelus batang-batang kopi yang menjuntai.

“Kau rindu padanya, bukan? Aku pun merindukannya,” lanjutnva.

Aku tertegun. Mungkin lebih baik aku tidak kembali ke kantor itu daripada aku harus memaksa narasumberku. Aku memutuskan berbalik, tetapi kakiku menginjak daun kering sehingga menimbulkan suara gemerisik.

“Tunggu! Jangan pergi!” teriaknya.

Tatapan matanya yang tajam penuh selidik berganti tatapan mata sayu penuh kepedihan. Bahkan mata itu berkaca-kaca.

“Maaf, aku tidak akan memaksamu bicara,” kataku.

“Dulu aku berjanji pada tanaman kopi di sini, siapa yang berani menemuiku pada hari Selasa di hutan ini, maka aku akan bicara padanya.”

Lelaki itu bangkit dan menarik tanganku, “Ikut aku!”

Tanpa memedulikan kebingunganku, ia menarik tanganku menuruni bukit menuju tepian Danau Lut Tawar. Di pinggiran danau ia mempersilakan aku duduk.

“Dia pergi pada hari Selasa dan aku yakin dia akan kembali juga pada hari Selasa,” katanya membuka pembicaraan.

“Siapa yang kautunggu?”

Arsip Cerpen di Indonesia