“Adikku.” Ia menunduk sedih. “Sepuluh tahun lalu, setelah kedua orang tuaku pergi, aku meninggalkannya sendirian mengurus kebun kopi ini.”
Aku terdiam.
“Aku ke Jakarta mengejar mimpiku. Aku lupa mimpi besarku ada bersama tanaman kopi di sini. Saat aku kembali, adikku telah pergi. Orang-orang melihatnya pergi ke tepi danau pada malam Selasa. Mereka bilang lembide mengambilnya, tapi aku tak percaya. Aku membiarkan perahu kecilnya tertambat di sana, ia pasti memerlukannya untuk mencari ikan depik saat kembali nanti.”
“Aku turut berduka,” kataku.
“Hei, kau tak perlu berduka. Ia akan kembali pada malam Selasa. Ia harus tahu bahwa aku juga mencintai kopi seperti ia mencintainya. Ia harus tahu bahwa aku akan menghabiskan hidupku bersama kopi.”
Lelaki itu berdiri memandangi perahu kecil yang tertambat di tepi danau seolah adiknya akan muncul di atas perahu itu. Hingga tulisanku tentang kopi mendapat sambutan hangat dari Bos, lalu bertahun-tahun kemudian aku kembali ke Bukit Temung untuk menemuinya, ia masih sama. Entah hari Selasa yang mana adiknya akan pulang. Tetapi ia masih menunggu. ***
Jakarta, Mei 2018
Untuk Maharadi
Tary Lestari, kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 25 Desember. Menulis cerpen, novel, dan skenario. Karyanya telah dipublikasikan Femina, Suara Pembaruan, Nova, Jawa Pos, dll. Skenarionya pemah diproduksi dan ditayangkan di sejumlah televisi national. Bukunya antara lain Sketsa Bidadari (Novel, Lingkar Pena Publising House) dan Tarian Sunyi (Novel, Mizan Remaja).