Tak mungkin Rao menampik permintaan itu. Marpaung adalah orang yang pernah menolongnya, orang yang pernah menyelamatkan jiwanya dari amuk massa saat terpaksa mencuri karena lapar. Marpaung pula orang yang mengenalkannya pada Haji Sulaiman dan meyakinkan pemilik armada sodaco itu untuk memberinya pekerjaan. Sebagai laki-laki, Rao harus tahu cara membalas budi.
“O ya, apa kau pernah mendengar tentang Gelang Akar?” tanya Marpaung membuyarkan lamunan Rao.
“Gelang Akar?”
“Gerombolan begal yang menguasai jalur Lintas Selatan,” ujar Marpaung sambil menyeruput kopi bikinan Mak Salim, pemilik kantin armada sodaco, tempat ia dan Rao sedang berbincang.
Rao menggeleng. “Aku sudah lama tak pulang. Pasti banyak yang telah berubah.”
Laki-laki setengah baya itu menarik sebatang rokok dari bungkusnya, lalu menyelipkannya di bibir. Sebenarnya ia terkejut sekali saat Marpaung menyebut-nyebut nama itu. Masa lalunya yang telah mati hidup kembali. Namun, Rao cepat menyembunyikan perubahan air mukanya di balik gumpalan asap rokok yang diembuskannya. Asap itu tebal bergumpal-gumpal, persis isi kepalanya.
“Kau pernah bertemu mereka?” tanya Rao.
“Tidak pernah,” jawab Marpaung.
“Tiga minggu yang lalu kabarnya Ucok Lintah dibegal kawanan bedebah ini.”
“Bagaimana mungkin?” ledek Rao disusul tawa pendek yang terdengar sumbang. “Ucok itu preman di pangkalan sodaco ini. Tak mungkin mudah mengalahkannya.”
“Mereka punya senjata,” ujar Marpaung.
“Senjata?”
“Iya, senjata api. Bah! Kau pikir cuma parang? Kalau cuma parang, tak akan mundur kawan kita itu!” seru Marpaung tergelak.
Rao ikut tergelak. “Ooo, pantas saja kalau begitu.”
“Ya, karena itu kusarankan padamu, sebaiknya berhati-hati saat melintas di sana. Usahakan jangan melintas malam hari.”
Rao mengangguk dan tersenyum penuh arti. Bertahun-tahun yang lalu, ia juga seorang begal. Dan tentu saja, rahasia itu tidak akan ia ceritakan pada Marpaung. Rao yakin sekali, ada gerombolan lain yang memakai nama Gelang Akar, sebab saat ini, hanya dirinya satu-satunya orang yang masih hidup dari gerombolan itu. Alih-alih takut, Rao justru penasaran, siapa yang telah membangkitkan nama Gelang Akar?
***