Riwayat Gelang Akar

“Aku akan mengadu nyawa denganmu!” teriak Bahar kalap dan merasa sedang dipermainkan. Laki-laki setengah baya itu tersenyum mencela. Namun ia tak bisa menutupi sirat lelah di wajahnya. Pertarungan itu telah menguras separuh tenaganya.

Untuk sementara laki-laki itu masih sigap mengelak, namun lama kelamaan ia terdesak juga. Hingga pada satu titik, Bahar menemukan satu celah. Kepalan tangannya berhasil mendarat di pelipis, disusul tendangan ke tulang rusuk. Sabetan golok menyilang tajam, merobek urat besar di pangkal leher. Laki-laki itu mengeluh pendek, lantas tumbang di atas genangan darahnya sendiri.

Belum pernah Bahar bertemu musuh segigih ini. Lawan paling tangguh yang pernah ia hadapi. Ia menghampiri mayat itu, lalu memungut selembar foto yang tercecer di atas aspal. Dua wajah yang tak asing di foto itu membuat tubuhnya bergetar, memicu raung panjang dari mulutnya. Bahar jatuh berlutut, meratap rindu pada bapaknya dan menghiba meminta ampun pada emaknya. (*)

 

* Sodaco, sebutan masyarakat kota Medan untuk angkutan kota.

Arsip Cerpen di Indonesia