Riwayat Gelang Akar

Bahar berdiri di ambang pintu. Baju seragam sekolahnya basah oleh air mata. Ada gurat luka di pelipisnya, seperti bekas cakaran. Mar sedang menjemur cucian ketika anak semata wayangnya itu bertanya dengan nada penuh kemarahan.

“Apa benar aku anak seorang begal?”

“Siapa bilang begitu?”

“Teman-temanku.”

Mar terdiam, memandangi wajah anaknya.

“Mana yang akan kaupercaya? Emakmu atau temanmu?” tanyanya gemetar.

Bahar mematung dengan wajah merah padam.

“Jangan dengarkan apa kata mereka,” lanjut Mar sambil mengusap kepala Bahar. “Mereka tak tahu apa-apa. Bapakmu bukan penjahat. Bapakmu sedang merantau ke Malaysia.”

“Betulkah itu?”

Mar mengangguk ragu-ragu. “Lihatlah foto yang tergantung di dinding itu,” katanya seraya menunjuk sebingkai potret buram yang tergantung di dinding. “Itu aku dan bapakmu. Ia lelaki baik-baik. Bukan penjahat.”

Bahar tak lagi bertanya. Ia meninggalkan ibunya mematung di bawah tiang jemuran. Dada perempuan itu rengkah. Entah sampai kapan hatinya sanggup menyimpan rahasia. Lidahnya membatu setiap kali ingin menceritakan semuanya kepada Bahar.

Semula Mar mengira jawaban yang ia berikan siang itu akan memungkasi persoalan, namun esok paginya, Bahar kembali pulang lebih awal dan membawa luka lebam di bawah mata. Ketika Mar bertanya, anak itu mengaku baru saja mematahkan batang hidung teman sebangkunya.

“Mereka boleh menghinaku. Tapi jangan sesekali menghina bapakku,” ucap Bahar geram.

Sejak hari itu, Bahar menjadi liar dan gemar berkelahi. Tak sekali dua kali Mar dipanggil guru. Tak jarang pula perempuan itu dilabrak orang tua yang anaknya babak belur dipukuli Bahar. Namun Mar tak pernah menjawab dan tak pula membela. Sikap yang akhirnya membuat Bahar kembali bertanya-tanya.

“Mengapa Emak tak pernah membela bapak?”

“Untuk apa? Mereka tak tahu apa-apa.”

Arsip Cerpen di Indonesia