Mendengar itu Bahar tersadar, tidak ada yang bisa membela bapaknya kecuali dirinya sendiri. Lantaran itu pula ia menolak ketika Mar membujuknya kembali ke sekolah. Bahar lebih memilih belajar kuntau pada Cik Amat, seorang pendekar tua di kampungnya.
Hanya butuh waktu tiga tahun bagi Bahar mengkhatamkan semua jurus yang diberikan Cik Amat. Tiga tahun yang mengubah dirinya dari bocah kerempeng, menjadi jago kuntau yang disegani.
Menginjak usia enam belas, Bahar mengajak teman-temannya sesama putus sekolah untuk bergabung dengan kelompok berandalan yang ia namai Gelang Akar. Nama itu terilhami dari kisah yang disenaraikan Cik Amat, bahwa belasan tahun yang lalu, nama itu dipakai segerombolan begal budiman. Mereka kerap membagi-bagi hasil rampokan kepada orang miskin di kampung-kampung.
“Tapi kini, tak ada yang tahu nasib gerombolan itu. Mereka mungkin telah mati ditembak polisi,” kata Cik Amat memungkasi kisahnya pada Bahar.
***
Dari sekian puluh aksi yang dipimpinnya, baru kali ini Bahar dipaksa turun tangan. Laki-laki itu berhasil menumbangkan tiga temannya dalam satu pertarungan. Bahar tersadar, ia dalam masalah besar sekarang. Sopir truk yang dihadapinya kali ini, bukan sopir truk sembarangan. Bahar mengacungkan pistol, bermaksud menyudahi perkelahian. Namun pistol itu, entah mengapa, tiba-tiba tak mau bersuara. Pistol di tangannya seolah menjelma menjadi besi tua yang tak berguna.
Laki-laki itu menyeringai sambil menunjuk pistol di tangan Bahar dengan tatapan menghina. “Benda itu hanya cocok untuk perempuan.”
Bahar mendengus. Dibantingnya pistol itu ke aspal. “Kalau begitu, ajari aku berkelahi secara jantan!” serunya sembari meloloskan golok yang tergantung di pinggang.
Desing logam menggema di udara. Laki- laki itu menahan napas. Golok melesat di atas kepalanya. Dengan sigap, ia menarik tubuh ke belakang, namun terlambat. Ujung golok itu menggores pipinya. Bibir laki-laki itu bergetar, bukan oleh rasa sakit, melainkan oleh amarah. Dengan gerakan memutar, ia menendang dada Bahar. Bahar melompat mundur. Laki-laki itu mencabut sebilah belati.
Jual beli jurus berlangsung di atas jalan yang sepi. Golok dan belati saling silang mencari maut. Meski pertarungan telah berlangsung bermenit-menit, namun di antara mereka belum ada yang menyerah. Bahar mengeluarkan semua jurus kuntau yang ia miliki, namun laki-laki itu masih tetap berdiri.