Tersebutlah, anak gadis Naneng tengah didekati oleh bujang asing. Awalnya tak ada yang peduli. Itu lumrah. Tapi orang-orang mulai bertanya ketika Naneng bercerita di kedai kopi, bila bujang yang mendekati anak gadisnya selalu datang usai matahari tenggelam dan pamit pulang setelah burung pungguk mulai berbunyi.
“Pulang ke mana dia?” seseorang bertanya ketika Naneng usai mengutarakan keganjilan itu. Naneng mengangkat gelas kopinya, menghirup seperempat, meletakkan gelas kembali dan keningnya berkerut-kerut.
“Itulah yang aku tak paham. Tak banyak bujang yang pulang larut dari rumah gadis. Biasanya sebelum magrib mereka sudah bergegas kembali ke perahu, takut kemalaman sampai rumah.”
Orang-orang senyap dan hanyut dalam pikiran masing-masing, menduga-duga, menerka-terka dan muaranya tetap satu saja: pulang ke mana dia?
“Coba kau tanya, pulang ke mana? Dan, suruhlah dia bertamu beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Naik perahu malam-malam dan gulita, berbahaya. Pekan silam, orang dusun hilir sana diterkam buaya saat sedang berak di sungai.”
Seketika orang-orang bergidik. Berita itu sudah tersiar dan ramai dibicarakan.
“Aku sungkan menanyakannya,” ujar Naneng, “Nanti dia salah menduga. Dikiranya aku sudah tak sabar dia melamar anak gadisku.”
Beberapa orang tergelak. Wajah kecokelatan Naneng sedikit memerah. Dia tergesa menjangkau gelasnya kembali, meneguk kopinya hingga hampir seperempat.
“Kenapa tak kau pinta anak gadismu saja yang bertanya?”
Seketika dengungan setuju memenuhi kedai kopi. Itu usulan terbaik yang diberikan. Naneng pun sependapat. Akan lebih bijak bila bertanya kepada anak gadisnya. Dan nantinya anak gadisnya itu yang bertanya pada bujang itu.
Jadilah, sepulang dari kedai kopi dan melihat bujang asing itu perlahan turun dari tangga rumahnya, lalu menghilang dalam kegelapan malam, Naneng memanggil anak gadisnya.
“Siapa bujang tadi? Ebak perhatikan sudah lebih dari dua pekan ini, selang dua-tiga malam dia datang bertandang.”
Dalam remang cahaya lampu batok, Naneng dapat melihat pipi anak gadisnya perlahan memerah, lalu seperti tersadar jika bapaknya tengah menunggu jawaban darinya, anak gadis itu tergesa meluruskan punggung.
“Namanya Raimau, Bak.”
“Heemmm,” Naneng berdehem sembari mengembuskan asap tembakau yang menggumpal dalam mulutnya. “Pulang ke mana dia?”