Utang Darah Manusia Harimau

Anak gadisnya menggeleng. “Tak tahu, Bak.”

“Tak kau tanya?”

“Tidak.” Ada riapan air di matanya. Cemas bertalu. Dia khawatir ebak-nya tak menyukai bujang itu. Padahal dia sendiri sudah kadung jatuh cinta.

“Cobalah kau tanya.”

“Untuk apa, Bak?”

“Biar kita tahu,” Naneng mulai gusar, “Tak kau perhatikan kalau bujangmu itu selalu bertandang jelang malam dan pulang hampir larut. Kau tak takut kalau dia terjatuh dari perahu atau dia diterkam buaya.”

Seketika anak gadis Naneng mengembuskan napas lega, tapi beberapa detik berikutnya menelan ludah pahit. Dia baru paham ke mana ucapan bapaknya. Dan malam itu dia tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus dihantui pertanyaan bapaknya. Dia tak sabar menunggu pagi, lalu matahari meninggi dan pada akhirnya tenggelam lagi. Saat itulah, pujaan hatinya datang bertandang.

***

BEGITULAH, ketika matahari tergelincir di barat dusun, anak gadisnya Naneng sudah selesai memasak makan malam, mandi, berdandan dan menunggu dengan pertanyaan yang mendesak-desak di hatinya. Tanya yang membuatnya seperti duduk di atas bara.

Jadi tak heran bila anak gadisnya Naneng senang bukan kepalang, ketika jelang gelap menyungkup kampung, bujang yang dia tunggu muncul di tapak tangga rumah orang tuanya. Lalu, perlahan bujang itu menaiki anak tangga dan seperti biasa, mereka akan memadu kasih di teras rumah yang temaram.

“Bang,” panggil anak gadis Naneng, “Aku hendak bertanya satu hal. Boleh tak?”

“Boleh,” sahut bujang bernama Raimau itu. Dia selalu duduk di pojok teras, di bagian ini ada lubang tak lebih dari 10×10 sentimeter. Biasanya dibuat untuk membuang kotoran yang disapu di teras.

“Abang pulang ke manakah?” anak gadis Naneng bertanya dengan suara lirih. Dia agak khawatir, kalau-kalau bujang itu tersinggung dan tak hendak lagi menemuinya.

“Kenapa kau bertanya begitu?” si bujang balik bertanya.

“Aku tiba-tiba terpikir, apa Abang tak takut pulang malam naik perahu? Tak Abang dengarkah kalau sepekan silam ada yang diterkam buaya?”

Bujang itu tersenyum, membuat bibirnya tertarik dan ceruk di bawah hidung yang memang samar, semakin tak ada. “Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku?”

Arsip Cerpen di Indonesia