“Siluman dan manusia tak bisa menyatu.”
“Kumohon…,” dia tak menyerah. “Kami akan punya anak…”
“Bunuh!” teriak seseorang, disambut riuh rendah yang lain. Seketika orang-orang menyerang. Karena terdesak, harimau jadi-jadian itu kembali berubah wujud. Dia mencakar ke sana ke mari. Orang-orang berjeritan. Melihat cela, dia berlari, menerobos malam yang pekat, lalu lenyap di dalam hutan belantara.
***
“BAGAIMANA nasib anak gadis Naneng, Nek? Apa dia tahu kalau pacarnya seekor siluman harimau?”
“Dia tahu dan syok,” nenek menghirup napas, dalam. “Harimau siluman itu bisa diusir, tapi masalahnya tak selesai.”
“Kenapa?”
“Anak gadis Naneng hamil. Naneng dan orang-orang yang marah mengurungnya. Dia mati saat beranak, pun anaknya yang berbulu mirip harimau dibiarkan mati kelaparan. Perbuatan kejam ini yang membuat siluman harimau itu marah.”
“Jadi dia mengirimkan kutukan?”
Nenek mengangguk. “Setiap tahun kabisat akan lahir bayi yang punya ciri-ciri manusia harimau. Bawah hidungnya tak berbelah, punya ekor walau pendek, jari-jari harimau dan berbulu. Bila sekali saja anak itu dibawa ke hutan, dia akan lenyap tanpa jejak untuk selama-lamanya. Konon, katanya, dia akan diambil dan dibawa ke desa siluman harimau.”
Aku menelan ludah. Tanpa kusadari, aku meraba daging di bawah batang hidungku, memperhatikan bulu tebal yang memenuhi lengan dan aku menelan ludah saat menyentuh ekor pendek yang ada di bokongku. Mataku beriap memandang nenek. Dia berusaha tersenyum, walau kurasa sangat kecut. ***
Pali, 2018
Guntur Alam. Buku kumpulan cerpen gotiknya berjudul “Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang” (Gramedia Pustaka Utama, 2015). Saat ini menetap di Pali.