Naneng teringat sesuatu. Dia mengendap-endap kembali, ke arah bawah dapur rumahnya, tempat istrinya menanak air minum. Diambilnya abu bakar yang sudah dingin dan dihamburkannya benda itu di telapak tangga rumahnya. Lalu dia gegas kembali ke kedai kopi. Berbaur dan mengubur cemas.
Paginya, Naneng tergesa melihat telapak tangga rumahnya. Dan darahnya tersirap. Dia melihat bekas tapak kaki harimau di sana. Bukan tapak kaki manusia. Namun Naneng tak kuasa menceritakan itu pada anak gadisnya, tergesa dia menghapus jejak itu.
Dua harian dia gelisah. Karena tak tahan, diceritakannya temuan aneh itu pada beberapa teman minum kopinya. Mereka pucat pasi.
“Anak gadismu diincar harimau jadi-jadian,” desis mereka. Bulu kuduk Naneng meremang. Dia tak dapat membayangkan bila anak gadisnya dimakan makhluk menyeramkan itu. Memang masih banyak harimau di hutan dekat dusun mereka. Namun Naneng tak pernah menduga jika ada siluman harimau di sana. Mungkin saja nama desa yang disebut bujang itu adalah nama desa siluman harimau.
“Kita harus mengusirnya. Jika perlu membunuhnya. Kalau tidak, anak gadismu yang jadi incaran,” saran teman-teman minum kopinya dan Naneng hanya pasrah. Siang itu mereka menyusun siasat untuk menghalau harimau jadi-jadian itu.
Malamnya, selang dua malam sejak temuan Naneng itu, seperti yang direncanakan, orang-orang itu mengintai dalam gelap. Saat waktu dirasakan pas, mereka perlahan mendekat. Semua terkesiap saat melihat sebuah ekor menjuntai dari lubang teras rumah Naneng. Itu benar-benar ekor harimau.
Seketika tiga orang menarik kuat-kuat ekor itu. Terdengar auman yang memekakkan telinga. Ayam-ayam yang terkantuk dalam kandang langsung berloncatan dan berkotek riuh. Suara auman harimau itu membahana, membangunkan orang-orang. Anak gadis Naneng menjerit dan terkencing-kencing. Suara-suara panci dan periuk ditabuh. Kampung riuh.
Harimau jadi-jadian itu melompat dari teras. Orang-orang yang sudah mengepung segera mengejar. Ada yang melempar tombak, menghalau. Harimau itu terdesak, di antara puluhan laki-laki kampung yang ternyata telah siaga. Mata birunya berkilat-kilat terkena cahaya obor. Merasa dirinya terdesak, harimau jadi-jadian itu segera berubah wujud menjadi manusia kembali. Seorang bujang berwajah rupawan.
“Aku tak berniat jahat,” desisnya, bergetar. “Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Saat pertama kali melihatnya. Aku ingin menikahinya. Aku tak akan melukainya.”
“Kau siluman! Dia manusia!” teriak orang-orang.
“Tapi kami saling mencintai,” dia memelas.