Malam itu juga, berita orang yang jatuh dari langit Los Angles menjadi berita utama yang ditayangkan hingga ke berbagai negara. Dugaan sementara, seperti yang disampaikan oleh Presiden NASA bahwa tubuh yang jatuh itu adalah alien. Seketika orang-orang di penjuru dunia diliputi ketakutan.
“Alien benar-benar ada.”
“Haaaaah!”
“Ternyata alien mirip manusia.”
“Bumi akan diserang alien.”
“Gawat!”
“Kita akan jadi budak alien.”
“Bagaimana ini?”
“Ayo sembunyi.”
“Bumi sudah tidak aman.”
“Ayo pergi ke Mars.”
Ketika orang-orang masih dilanda ketakutan, pagi hari setelah kejadian orang jatuh dari langit di Amerika malam itu, di negara-negara lain terjadi peristiwa yang sama. Orang-orang berjatuhan dari langit tepat di pusat kota-kota besar, di Jerman, Itali, Mesir, Inggris, Jepang, hingga di sebuah negara yang masih sibuk dengan kasus korupsi, suap, dan reklamasi pulau. Orang-orang yang jatuh dari langit itu seperti menggantikan jatuhnya hujan yang sudah tak tentu musimnya. Kenyataan, terkadang memang sangat aneh dan menggelikan.
***
Langit malam Jakarta amat suram. Tak ada bintang-bintang yang mekar di cakrawala karena terhapus cahaya lampu gedung-gedung bertingkat. Di warung-warung kecil sepanjang pinggir perlintasan rel kereta api, sambil merenungi nasib dengan sebungkus nasi kucing dan segelas es teh atau kopi, orang-orang asyik memperbincangkan berita hangat “orang-orang yang jatuh dari langit”.
“Kamu sudah dengar kabar terbaru?” tanya Dzikrun kepada Samo yang sedang lahap menyantap sebungkus nasi kucing dengan sambal teri di warung Zuha.
“Apa? Orang jatuh dari langit lagi?”
“Iya. Tadi sore ada yang jatuh lagi. Di Senayan. Di gedung dewan perwakilan.”
“Gedungnya hancur berantakan lho,” timpal Zuha sembari menghidangkan cangkir kopi kedua kepada Dzikrun.
“Berarti sudah tiga kali ye, di bundaran HI, Patung Pancoran, terakhir di gedung dewan.”