“Mana mungkin malaikat jatuh di bumi? Mirip manusia, lagi.”
“Ya, mungkin saja. Bukan mirip manusia, tapi berubah menjadi manusia.”
“Haaaah?!”
Kepala Dzikrun tiba-tiba pening. Ia meraih cangkir kopinya yang sudah agak dingin dan menyecapnya. Zuha sudah tidak tertarik lagi dengan pembicaraan dua lelaki itu. Ia asyik mengolesi bibirnya dengan pulas merah. Tak ketinggalan, ia membenarkan posisi BH-nya yang melorot. Tengah malam nanti ia ada janji dengan seseorang di losmen.
“Kamu ini lho, mana bisa malaikat berubah jadi manusia?!”
“Bisa saja,” Samo mengisap rokoknya. “Iblis, kamu tahu, dia dulunya juga malaikat. Bahkan bisa dibilang rajanya malaikat. Karena satu kesalahan, dia yang mulanya bertubuh indah akhirnya berubah menjadi iblis yang berperawakan buruk. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan manusia juga bisa berubah menjadi binatang, tikus misalnya.”
“Ah, yang betul saja. Kata siapa kamu?”
“Gini-gini aku pernah nyantri.”
“Jadi, alien itu, eh, mereka yang jatuh dari langit itu malaikat?”
“Mungkin.”
“Karena kesalahan, mereka berubah menjadi manusia?”
“Bisa jadi.”
“Kenapa tidak berubah menjadi iblis?”
“Mungkin karena sekarang manusia lebih iblis ketimbang iblis sendiri.”
“Lalu, mereka membuat kesalahan apa?”
“Entah. Aku bukan Tuhan.”
“Menurutmu….”
Dzikrun belum selesai menuntaskan ucapannya ketika tiba-tiba Zuha bangkit dari kursi dan mengomel.
“Sudah, sudah. Dari tadi ribut mulu. Cepat bayar. Aku mau tutup, ada janji.”
“Losmen lagi?” ledek Dzikrun.
Zuha tidak menjawab. Ia mengemasi barang-barang di warungnya. Samo mengisap sisa rokoknya dalam-dalam, menikmati sensasi asap yang masuk ke tubuhnya, kemudian mengeluarkanya melalui mulut yang agak dimoncongkan. Asap yang keluar membentuk bulatan-bulatan serupa huruf 0. Ditariknya selembar uang dua puluh ribu dari saku baju yang bertuliskan toko bangunan blablabla, namun segera disergah oleh Dzikrun.
“Sudah, aku saja yang bayar.”
***