“Ah, tak usah ikut pusing. Paling mereka juga senang gedungnya hancur. Bisa jadi proyek baru.” Samo meremas bungkus nasi dari koran bekas yang memuat berita alien atau orang jatuh dari langit dan membuangnya dengan serampangan di tanah.
“Tapi, menurutmu, apakah mereka itu benar-benar makhluk luar angkasa?” tanya Dzikrun.
“Maksudmu alien!”
“Ya.”
Zuha yang sedang duduk di kursi sambii menabur pupur bedak di wajahnya tiba-tiba menyela dengan suara ketus.
“Eh, alien dari mana? Mana ada alien gagah seperti bintang film.”
“Ya, berarti alien itu sama seperti kita.” Dzikrun menyeruput kopi hitamnya. “Busyeettt, panas amat.” Ia membuka mulutnya, menjulurkan lidah yang kepanasan, dan mengipasinya dengan tangan.
“Makanya, tunggu agak dingin dulu,” timpal Zuha tanpa memalingkan wajah dari cermin di tangannya.
Mereka yang jatuh dari langit semuanya berkelamin laki-laki. Meski terjun dari tampat yang tak terhitung tingginya, mereka masih bernapas dengan teratur. Dan semuanya yang jatuh di berbagai negara telah diamankan. Demi mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi, setiap negara telah siap siaga dengan pertahanan militer dan nuklir. Sedangkan di laboratorium penelitian NASA, seonggok tubuh sedang diautopsi. Tubuh itu diambil organ-organ vitalnya, disedot darahnya untuk diteliti. Demi kemajuan ilmu pengetahuan.
“Mereka bukan alien,” kata Samo sembari menimang-nimang sebatang rokok.
Ia kemudian menjepit kretek itu dengan bibirnya yang hitam dan menyulutnya. Bunga api menyala dan asap mengepul dari kertas dan tembakau yang terbakar.
“Welaaah, kalau bukan alien, terus apaan Dewa?”
“Bukan. Tapi malaikat.”
Rel tiba-tiba berderit. Sebuah kereta kelas ekonomi melintas, menenggelamkan percakapan di warung pinggiran itu untuk beberapa saat.
Dzikrun sedang mengerutkan dahi memikirkan perkataan Samo. Sepengetahuannya, seperti yang diajarkan gurunya saat di sekolah dasar, malaikat tinggal di langit yang tinggi. Tubuh mereka terbuat dari cahaya, tidak bisa dilihat, dan bentuknya berbeda dengan manusia.