Perempuan itu merasa bahwa dia berada ruang gelap tanpa cahaya. Memeluk dirinya sendiri saat ucapan sang suami tercetus. Dia merasa berkecil hati, terlebih lagi dia tidak memiliki marga. Tidak terasa, keluar butiran air hangat mengalir dari sudut matanya.
Seperti ada api yang membakar hatinya. Menghanguskan rasa sayangnya pada sang suami dengan bayangan bapak mertua. Harusnya api itu membakar egoisnya bukan membakar rasa sayangnya sampai sang suami harus merasa jauh dari keluarganya.
Tidak bisa disangkal. Perempuan itu terus memarakkan api dalam hatinya. Tidak sudi bapak mertua melihat anaknya. Bahkan sejak mereka menikah, dia tidak ingin memijakkan kakinya di rumah mertua. Jika sang suami mengajak ke rumah orangtuanya, perempuan itu selalu saja mencari alasan agar tidak ikut.
“Tidak, bang. Aku tidak mau bapakmu tahu kalau cucunya lahir.” Lirihnya.
Sejak genggaman dilepas, lelaki itu mengerutkan dahi. Ternyata selama ini dia terlalu naif dengan sikap sang istri, sampai akhirnya tercetus kebencian dari bibir tipis sang istri. Lelaki itu merasa heran dengan ucapan sang istri. Selama ini, dia menganggap semua keadaan, baik-baik saja.
Pagi ini, perempuan yang disayangi mengeluarkan kalimat pedas, merajam hatinya. Kembali lelaki menggenggam tangan sang istri, dia ingin menyalurkan kehangatan dari telapaknya. Sia-sia saja, perempuan itu meringis, kesakitan akibat goyangan jarum karena mengelak dari tangan sang suami.
“Kenapa, dek? Apa salah bapak?”
Perempuan itu masih membisu. Menatap jendela, melihat keramaian manusia dari balik jendela. Dia menarik napas dalam-dalam, menyeka air mata. Mendamaikan hatinya agar bisa berbicara. Lama sekali dia mengatupkan kelopak mata.
“Aku tidak suka saja.” bentak sang istri.
Ruang lengang, lelaki itu bingung dengan kepalsuan alasan sang istri. Tidak sewajarnya dia melakukan perlawanan di saat sang istri melemah. Terlebih lagi perempuan itu sudah memberikan hadiah yang tidak ternilai harganya.
Saat mereka membisu, terdengar suara ketukan pintu. Seorang perawat memberitahukan bahwa anak mereka menangis sedari tadi. Perawat itu menggendong bayi merah, mendekati sang ibu sambil meletakkannya di pangkuan sang ibu.
Bayi itu masih saja menangis, tiada henti. Perawat mulai kebingungan, sebab si bayi sudah diberi minum susu, namun masih saja menangis. Lama sekali bayi itu menangis di pangkuan sang ibu. Lelaki bertubuh kekar itu meminta anaknya agar digendong pada lipatan tangan. Akhirnya sang perawat memindahkan sang bayi ke lipatan tangan lelaki itu.