Gagal. Sang bayi terus saja menangis sampai air matanya tak keluar lagi, tersirat kepanikan pada wajah sang istri. Mereka bingung dengan sikap sang bayi. Begitu juga dengan perawat, tidak pernah dia mengalami perihal ini. Aneh sekali. Biasanya, bayi akan diam setelah diberi susu atau diganti popoknya kalau buang air kecil.
“Bagaimana ini, Bu? Sudah beberapa jam anak ibu menangis. Mukanya mulai membiru.” Ujar sang perawat.
Lelaki bertubuh kekar itu mengambil ponsel dalam saku celana. Dia bingung, ingin mengabarkan pada Mamaknya. Meminta informasi, sikap apa yang harus dilakukan? Sebab, mamak terlebih dahulu memakan garam. Pasti perempuan berusia setengah abad itu tahu mengatasinya.
“Tidak, Bang. Jangan kabarkan keluargamu. Aku tidak sudi. Kalau kau menghubungi mereka. Aku akan membunuh anak ini.” Ancam sang istri.
Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Memandang sang istri dengan mata merah bercampur bendungan air mata. Dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana. Hatinya bimbang.
Lagi, dia mengambil sang bayi dari pangkuan sang ibunya. Menggendong sambil memberikan susu pada anaknya, namun tidak berpengaruh. Sang bayi terus saja menangis. Dia membawa sang bayi keluar dari ruangan, meninggalkan sang istri.
Sambil menggendong sang bayi, dia mengeluarkan ponsel. Menelepon bapaknya. Dari seberang telepon, terdengar suara bahagia dari mulut bapak.
“Pak, nanti saja bahagianya. Sejak lahir sampai sekarang, cucumu tidak mau berhenti menangis. Badannya sudah membiru. Cepatlah bapak dan Mamak datang.” ujar lelaki itu sambil menangis.
Dia memberikan informasi keberadaannnya, kemudian memasukkan ponsel. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menunggu kedatangan bapaknya. Kegelisahan sudah membungkus dirinya. Tidak lagi mengindahkan ancaman sang istri. Beberapa orang yang lewat di hadapannya melihat dengan keheranan. Sesekali mereka memberi saran untuk memberikan susu pada anaknya. Bahkan ada yang menyarankan, agar memanggil orang pintar, mana tau ketika lahir, si bayi sudah disambet. Lelaki itu hanya bisa tersenyum atau mengangguk.
“Bagaimana, Pak?”