Seperti ada dentuman dalam hati ketika mendengar bisikan suami. Perempuan itu terisak, memeluk sang suami dengan erat. Dia harus menang dalam pertempuran hatinya melawan kebencian.
Harusnya dia merasa bahagia, mampu menghadiahkan penerus marga pada keluarga suaminya. Dia harus berterima kasih atas kelahiran anaknya, mengajarkan membunuh kebencian dan keegoisan. Dia membenarkan ucapan lelaki yang dicintainya.
Dia tersadar, sudah resiko baginya menikah dengan lelaki bermarga. Lantas, apa salahnya dengan marga? Toh, dia juga tidak kekurangan kasih sayang, malah mendapatkan lebih.