Hikayat Perahu

Orang-orang berhelm proyek dan buldoser. Mereka adalah monster gurita. Akan kutaklukkan kalian jika saatnya tiba.

Seorang pelaut handal harus mampu menunggangi ombak sepayah apa pun ia. Karena tanpa tantangan ombak, kita tak akan bersiap menghadapi badai yang lebih besar. Muson gila yang mengombang-ambing harapan. Badai yang berubah-ubah sesuai musim. Memaksa kita bersabar hadapi nasib yang bergeming.

Dengan segala kesulitan dan susah payah akhirnya kuterima juga ijazah sekolah di tangan. Ibu terharu. Di depanku terpampang dua pilihan: mencari peruntungan ke kota besar atau tetap di dusun ini bersama ibu, memandangi lautan yang tak bertepi.

Sebuah pilihan yang teramat sulit. Tetapi masa depan harus direngkuh. Ibu merelakan aku pergi mengadu nasib dengan gerimis yang membasahi perahu.

***

Rautnya memang telah berubah. Upaya apa pun untuk mengulur kebosanan di waktu yang terus melaju tanpa aktivitas akan melonggarkan kulitmu secara niscaya. Wajahnya terlihat kusam. Tetapi perutnyayang membuncit sedikit meringankan hati.

Saya sering membayangkan kematiannya di tempat ini. Bukan sejenis kematian yang sering diperbincangkan orang, tapi hak kemerdekaan yang tercerabut dari badan. Di usia produktifnya ayah jarang meluangkan waktu rihat. Ia selalu sibuk dengan apa saja. Bisnis, kegiatan sosial, undangan ceramah, simposium, pertemuan organisasi, olah raga, sesekali mengajar, atau sekadar ngopi-ngopi dengan rekanan yang sering ia utarakan saat pulang agak larut kepada ibu.

“Ayahmu sedang menebus masa lalunya,” tutur ibu coba menjelaskan.

Saya hafal kisah itu. Ibu sering menceritakannya sebagai pelecut semangat.

“Apa yang kita terima hari ini adalah buah kekerasan niat dan usaha, Nak. Usaha dan keberanian ayahmu meninggalkan Pantai Kesedihan, kampung halamannya untuk membalik  arah nasib. Anggaplah dirimu seorang nelayan tangguh seperti kakek. Dayung perahumu di muka aral yang jadi penghalang cita-cita. Kakekmu selalu tersenyum sewaktu melaut seberapa pun besar ombak menghadang, seberapa gelap awan mengepung. Lengkung senyuman itu seperti perahu yang abadi. Perahu yang diwariskan pada ayahmu.”

Saya mengingat petuah ibu selekat bayangan silam di masa yang pernah kami lalui dulu. Sejauh kenangan itu mundur memutar fragmen demi fragmen tentang sosok ayah, orang yang mengenalnya pun akan mengingat jejak perahu itu di mata mereka. Perahu yang berlayar bersama perahu-perahu rias lainnya dengan serempak bagai sebuah perayaan karnaval laut. Ayah tak merasa harus merias perahunya agar terlihat cantik seperti perahu mereka. Dengan percaya diri ia katakan: perahu yang hebat adalah perahu yang telah terbukti mampu bertahan dari sekian amukan cuaca dengan kelihaian navigasi sang nahkoda.

Arsip Cerpen di Indonesia