Hikayat Perahu

Cerpen D Hardi (Banjarmasin Post, 12 Agustus 2018)

Hikayat Perahu ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Hikayat Perahu ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 

Kupikir tiap senyuman itu laiknya perahu. Tubuhnya tegar berlayar di lautan biru dengan buih ketidakpastian. Penuhi siasat jeratan ombak dan ikan. Tubuh yang kukenang sesaat sebelum ia terbenam di ufuk terjauh.

Aku tak mendapatkan cerita utuh bagaimana ia terbenam. Yang kuingat, ayah adalah seorang pelaut hebat. Ia sering memperbincangkan laut dengan segala petualangannya. Sejak akhir musim kemarau, ayah tak pernah kembali ke rumah. Sia-sia ibu melarung bala.

Air matanya sesekali tumpah tiap kali melihat orang-orang pesisir berkumpul di bibir pantai menyambut badan perahu. Mengangkut hasil laut. Memeluk anggota keluarganya yang sempat terpisahkan. Tapi di tengah tuntutan hidup yang makin tidak ramah, ibu berjuang sekeras-kerasnya agar kami tetap bertahan.

“Engkau anak seorang nelayan yang tangguh. Dayung perahumu di muka aral yang jadi penghalang. Sekeras apa pun hidup jangan pernah takut kegagalan. Ayahmu selalu tersenyum sewaktu pergi melaut. Mungkin di kedalaman samudera, ia pun tersenyum menjemput takdirnya. Berikan senyum pada tiap kehidupan, Mantis. Senyum membuat hati melega. Kelapangan.”

Senyuman itu acap kukuh berlayar kala mendapati periuk makan hanya berisi nasi garam. Kala peluh menggoda langkah berkilo-kilo jarak yang harus ditempuh menuju pagar sekolah. Kala Madun sahabatku, membicarakan bapaknya, atau Sanif yang baru saja dibelikan sepatu baru. Kala semua teman-teman merancang masa depannya, sedangkan ibu masih sibuk mengusahakan cara mengepulkan dapur dan membayar SPP bulanan.

Tiap kali ombak kesedihan mengancam, perahuku akan berlayar menahan laju gelombang yang datang berulang-ulang.

Seperti sore itu, beberapa orang dengan helm proyek mendatangi lapangan merah tempat kami biasa bermain bola. Desas-desus mengatakan di tanah ini nantinya akan dibangun sebuah pabrik pengolahan. Gerutu anak-anak lainnya terdengar menggema, bunyikan amarah di dada. Inilah hiburan kecilku selain menangkap umang-umang dan mengumpulkan kulit kerang.

“Lihatlah nanti akan kubuat sebuah lapangan bola yang besar untuk anak-anak pesisir!”

Arsip Cerpen di Indonesia