Hikayat Perahu

Sepertinya kami akan menghabiskan senja di taman ini tanpa banyak kata. Laiknya perkenalan pertama, kala orang yang asing dan tak mengenal satu sama lain duduk bersebelahan di halte menunggu bus yang sama. Menikmati waktu lesat menuju ufuk.

Ia adalah pria asing pertama di sekolah yang aku kenal. Anak pindahan dari sekolah lain sewaktu teman-teman seangkatanku baru saja menyelesaikan masa ospek. Dia beruntung. Tak menjadi objek bulan-bulanan tradisi feodal para senior yang haus eksistensi. Aku tahu ini usia tanggung yang bergejolak. Masa di mana kita mulai meraba dunia luar selain rumah. Usia ranum yang lumrah mencoba banyak hal. Termasuk cinta. Bukan cinta sesungguhnya, melainkan getar-getar aneh yang tak kau kenal sebelumnya.

Tapi euforia ini tak membuatku tertarik. Aku hanya pengamat. Menyaksikan riuh rendah bising di sekeliling. Saat teman sebaya asyik dengan obrolan calon pacarnya, ekstrakurikuler, atau sekadar berkumpul di sekitar kantin dan lapangan bola, aku luruh menikmati kekosongan waktu pulang sekolah, tanpa bunyi repetisi bel atau derap langkah kaki menunggu jemputan datang sampai kemudian Ariel menyapa dengan senyuman khasnya. Si anak baru yang sulit ditebak dan impulsif.

Suatu hari dia mengajakku pulang bareng tanpa rencana. Melewati setapak taman tanpa luap percakapan di bawah rindang kiara sebelum menuju halte dan berpisah satu sama lain.

Dia mulai mengisi masa-masa membosankanku di sekolah.

Sebelum memunggungiku dan menghilang di kerumunan, secara mengejutkan Ariel—dia menyebut dirinya sendiri si anak perahu, menyatakan sebuah pengakuan: ayahnya adalah seorang narapidana yang telah divonis tujuh tahun penjara pada sebuah kasus korupsi. Ia menyebutkan sebuah nama.

Nama yang pernah aku benci karena turut pula menjerumuskan ayah jadi pesakitan. ***

 

D Hardi atau Deden Hardi, kelahiran Bandung, 26 Agustus 1983. Menulis prosa. puisi, dan esai, yang tersebar di media daring. Domisili di Bandung.

Arsip Cerpen di Indonesia