Tapi ayah belum bertemu ujian sesungguhnya, saat ia sadari kemudian bahwa perahu-perahu lainnya sedang berlomba saling hantam, berpencar sendiri-sendiri mencari keselamatan. Bahkan ia terlambat mengetahui jika perahu-perahu rias itu adalah perahu hantu. Menghilang begitu saja saat ia tiba-tiba tengah berada di pusara puting beliung.
Saya masih mengingat wajah-wajah manis rekan ayah sebelumnya saat kanak-kanak. Orang- orang itu mengajarkannya cara berdagang dan berorganisasi. Lama-lama Jaringannya meluas sampai ke arena politik. Tak ada keramahan yang gratis. Ia mulai terbiasa mengail ikan tanpa kesulitan. Tanpa petualangan yang dicari pelaut-pelaut sejati. Setelah memakai rompi oranye, perahu ayah akhirnya karam.
“Naslb bagai belati bermata dua. Seperti waktu. Ketika hidup berjalan seolah baik-baik saja, di situlah jebakannya,” ujarnya pelan. Matanya menangkap kekecewaan. Ia tampak diam membatu. Mungkin merasa kalah. Atau sedang mengingat sesuatu, entahlah. Di lain kesempatan berkunjung ia lebih banyak mendengar. Mata bulatnya kian menumpul. Perahu itu kini benar-benar karam tak berbentuk.
***
Suara gasal itu berasal dari sosok pria di sampingku. Mengenyah lamunan lampau sesaat. Mengayun dedaunan kiara yang terjatuh di taman ini.
“Giliran apa?”
“Kamu ke mana aja sih, tentang masa depan. Setelah ini mau meneruskan ke mana?”
“Entahlah, jurnalistik mungkin?”
“Universitas mana, luar?”
“Aku tak bisa jauh-jauh dari ibu,” ucapku pelan.
“Sepertinya kamu tak cocok jadi seorang jurnalis. Kamu kurang inisiatif. Seorang jurnalis harus lihai menggali informasi. Selalu ingin tahu kehidupan orang lain,” ujarnya menggoda.
“Apa kamu menemukan segala kepastian di dunia ini dalam ilmu pasti seperti yang kamu pelajari di kelasmu?”
“Maksudmu?”
“Kamu terlalu melihat segalanya secara linler, Ariel. Manusia itu beradaptasi.”
Ariel menatapku dengan perasaan yang sudah aku ketahui.
“Seringkali cinta hanya tameng untuk berbuat kekhilafan. Itulah sebabnya aku berhati-hati pada semua orang. Pada kamu. Maaf kalau sikapku terlalu dingin.”
“Aku mengerti. Itu juga alasanku merasa nyaman kenal kamu. Aku punya banyak rahasia. Aku tak butuh teman yang comel,” sekali lagi bibirnya mengembang.