Kota-kota di Ujung Jari

Kota Pembuka: Kota Kotak Pos

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

“Selamat datang.”

Kembali ke masa saat kali pertama aku menginjakkan kaki di Kota Kotak Pos. Aku yang tengah berdiri di persimpangan lain terkesiap demi mendengar suara tanpa rupa yang berucap mantap. Persis suara petugas kantor kecamatan yang mewartakan istirahat dimajukan sebab ada pegawai harus meniup lilin ulang tahun tempo hari, tanpa peduli pengantre yang sudah menunggu sejak pagi. Sejauh pandang kulempar, tidak ada hal lain selain satu-satunya jalan yang kupijak sekarang. Di depanku terhampar jalan bercabang, kanan dengan plang bertuliskan “Daftar” dan kiri “Masuk”. Aneh, jalan sebelah kiri ditutup portal. Maka tidak ada pilihan selain kanan.

“Sebutkan nama depan Anda.”

Lagi-lagi suara bening tanpa rupa menggema.

Tapa ragu kusahuti, “Manu.”

“Sebutkan nama belakang Anda.”

“Sia.”

“Sebutkan kata sandi.”

“Manusia.”

“Sandi lemah.”

“Manusiaaaa.”

“Sandi lemah.”

Hei! Yang benar saja. Aku kesal.

Lalu sekonyong-konyong terdengar bisikan kecil, juga tanpa rupa. Katanya, “Buat seperti pelat nomor, beri angka dan huruf.”

“Manusiasempurnasej4g4drayatiada2?” jawabku setelah semenit memutar otak.

“Kata sandi kuat.”

Setelah menjawab pertanyaan soal tanggal lahir, kelamin, dan nomor ponsel, akhirnya suara tanpa wujud memintaku menyebutkan alamat yang aku ingin pakai.

Dan… Amboi! Lihatnya di sana. Sebuah rumah berbentuk kotak pos bertuliskan namaku, Manusia, besar-besar sudah berdiri. Simsalabim abrakadabra! Sebetulnya proses saat kau pertama mendaftar menjadi warga kota-kota di ujung jari ya begini. Berdiri di persimpangan dengan pilihan-pilihan semacam “Laki-laki” atau “Perempuan” atau simpang dua belas dengan deretan nama bulan dari Januari hingga Desember. Aneh, meski kau terus menyusuri jalanan ini, tidak akan lelah kakimu barang sedikit pun.

Jika sudah kaukantongi alamat di sini, kota lain bisa kautinggali.

***

Arsip Cerpen di Indonesia