Kota-kota di Ujung Jari

Kota Beranda Biru

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Belakangan aku merasa tak nyaman bila tidak kutilik barang sebentar kota ini. Mengabaikan kenyataan sekarang aku berada di meja makan, sepersekian detik berikutnya aku sudah menggapai kendaraanku dan melaju ke sini: Kota Beranda Biru, salah satu kota favoritku di antara kota-kota di ujung jari. Kota dominasi biru inilah yang paling lama kutinggali setelah Kota Kotak Pos.

“Lagi, kenapa tidak bisa lepas sebentar? Matamu sudah seperti dilem saja ke layar.”

Lamat kudengar suara, yang jelas bukan suara dari kota ini. Bukan dari kota di ujung jari, melainkan kota maujudnya jemari. “Berisik,” desisku. Entah, aku jadi mudah naik darah bila diusik. Mungkin sebab mata dan jempolku yang panas sehingga amarahku makin gampang mendidih.

Di salah satu beranda kulihat kerumunan warga. Oh, di kota ini rumah-rumah memiliki beranda luar biasa luas. Tempat pemilik rumah berkisah, menunjukkan foto atau menyetel video. Biasanya pengunjung berkunjung di beranda, mengobrol, jajak pendapat, memuji, tak jarang pula mencaci tanpa tahu hal-ihwal. Ya, di depan beranda rumah orang. Yang terakhir, persis orang yang datang bertamu kemudian melempar tahi lalu pergi.

Memang biasanya saat orang-orang menginjakkan kaki ke kota ini, sebuah suara mendayu bakal mendesis di telinga, “Apa yang Anda pikirkan?” Dan bak dihipnotis, tanpa ragu mereka bakal berdiri di beranda rumahnya lantas menceritakan semua, dari urusan dapur, perkara kasur, gosip “katanya” sampai berita tidak jelas jluntrungan benar atau salah. Tentu saja cerita mereka bakal dikerubuti. Tak terkecuali yang kutemukan di beranda kawanku. Di samping kawanku yang berkisah berdiri dua muda-mudi telanjang tanpa sehelai benang menutupi. Keduanya kuyup air berwarna hijau beraroma busuk. Mereka dikerubuti. Banyak yang menunjuk-nunjuk, tak sedikit yang meludah dengan jari. Apa sudah kubilang, sekarang makin banyak kutemukan warga berwajah tanpa mulut sebab mulut mereka pindah ke ujung jari? Dari mulut itulah orang-orang meludah. Ludah yang luar biasa amis.

“Kumpul kebo woi. Enak ya mesum siang-siang?!”

“Dasar tidak tahu adat!”

“Lonte, woi, lonte!”

“Bakar aja. Kelakuan kayak hewan!”

“Viralkan!”

Lelepin aja ke laut!”

“Weh, seksi cuy yang cewek.”

Arsip Cerpen di Indonesia