Kota-kota di Ujung Jari

Aku mendekat setelah cukup lama mendengar teriakan warga lain. “Ada apa?”

“Ini mereka mesum berdua-duaan!” Kawanku menyalak berapi-api.

“Diamanahi jaga rumah malah zina. Goblok!” Yang lain menimpali lantas meludahi. Tentu dengan mulut yang sudah pindah ke ujung jari.

“Saya sudah bilang kami tidak melakukan apa-apa!” Cericit si pemuda yang lindap oleh teriakan warga. Dan entah kenapa aku meneriaki juga meludahi.

***

Mataku panas. Sepertinya aku terlelap setelah memuntahkan serapah buat dua muda-mudi kemarin. Aku terbangun lantaran merasakan haus yang sangat. Persis saat ujung gelas mengarah ke tempat yang seyogianya bibir, aku terperanjat.

Bibirku hilang. Alih-alih kudapati bibirku menempel di ujung jempol kanan dan kiri. Bibir di jempol kiri menyeringai, “Kau tahu, muda-mudi tadi, dua hari lagi bakal mati tertelan serapah kalian yang tak mau mendengar!”

Dalam setiap ucap bibirku berleleran liur amis yang membuatku menjeluak.

“Sok jadi hakim. Sok jadi Tuhan!”

Lagi-lagi aroma dari kedua bibirku membuat isi perut naik.

“Setelah ini giliranmu. Kau yang diseret di beranda dan dilucuti, disumpahi, diludahi!”

Aku menutup kedua telingaku. Tindakan siasia sebab aku justru membawa mereka persis ke depan liang rungu. Bisa kudengar mereka menyeringai, mengumpat, dan meludah.

Berhenti! Berhenti!

***

Aku tak ingat kapan tepatnya kutinggalkan kota-kota tadi. Kota yang bermula dari ujung jemari. Kota-kota yang tidak siang tidak petang, saban hari satu per satu kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali. Barangkali sejak kupotong dua jempolku sebab ada dua mulut di sana yang tak henti mencaci dan beraroma layaknya tahi. (44)

 

NF Rifana, perempuan Agustus asal Mojokerto, Jawa Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia