Kota-kota di Ujung Jari

Kota Galeri

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Tak terhisab jumlah foto dan pemutar video mini di kota ini. Setiap bangunan galeri punya foto dan video masing-masing. Punya pengunjung sendiri-sendiri.

Terkadang hanya ada satu orang mematung di depan sebuah foto. Tak jarang pula ada ribuan memelototi satu foto yang sama.

Pernah suatu kali kujumpai hal konyol. Saat di sela-sela waktu istirahat kerja kuputuskan singgah ke kota ini (kau tahu, datang ke sini mulai jadi candu). Di depan sebuah foto milik artis terkenal yang sering menyebut diri Plinses Syantik Tralala, ribuan orang berkerumun bak semut mengerubungi larutan gula yang tumpah.

“Wah, makin syantik ajah, Mbak,” kata seorang dengan muka bergambar wanita yang kelihatan sudah dipercerah dan dipercantik dengan alat pengubah rupa yang menjamur.

“Dasar tukang cari sensasi,” timpal yang lain.

Tak terima, pengunjung lain membalas tak kalah pedas, “Orang gak pemes kayak kamu bisanya sirik aja sih!”

Begitulah, dua kubu saling memuntahkan serapah dan pembelaan, adu jotos dan jambak-jambakan. Di antara itu semua, sekonyong-konyong seseorang dengan lantang menerobos tengah kerumunan. “Pembesar payudara, Mbak, Mas!”

Sementara di dalam rumah, sekilas kulihat si Plinses Syantik Tralala asyik melihat ke luar sambil ongkang-ongkang kaki. Aku menahan diri, tidak ikut beropini. Gegas aku pilih balik kiri. Sekembali dari sana aku terjengkang dari kursi kerja sebab terbahak tiada henti.

Omong-omong, kenapa galeri fotoku tidak ada yang mengunjungi? Aku ingin fotoku mendapat stiker hati sampai rutin aku bolak-balik ke kota ini tiap dua menit sekali.

***

Arsip Cerpen di Indonesia