Lukisan Jembatan

Lengang. Malam itu lewat dengan pertanyaan-pertanyaan Kelana yang belum sepenuhnya mengerti tentang pemikiran seorang ayah muda yang begitu kesepian. Apakah kesepian mampu menyempitkan pemikiran?

Maka begitulah… lelaki tua itu kini hanya hidup berdua dengan seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun. Tapi entah mengapa Raina tak mengalami kesedihan yang begitu mendalam ketika sang ayah pergi dan tak pemah kembali lagi. Sang ayah hanya bilang, “Mulai sekarang, kekek itu yang akan menjagamu.” Tentu saja, mulai saat itu juga, dunia ayah muda itu sepenuhnya menjadi milik Kelana. Ia memanfaatkan kebun di belakang rumah. Apa-apa saja yang kebun itu hasilkan, semuanya ia jual ke pasar. Kebutuhan sehari-hari pun terpenuhi. Sementara dua mobil mewah yang berada di garasi, belum ia sentuh sama sekali. Barangkali, suatu saat nanti pasti akan berguna, begitu pikir Kelana.

***

Di rumah berdinding gelap itu, setiap pagi Kelana selalu memerhatikan lukisan jembatan yang selalu membuatnya berpikir, apakah benar lukisan itu mampu bercerita. Sementara Raina, yang belum mengalami masa sekolah itu, terus saja bertanya, kenapa sang kakek selalu melihat lukisan itu setiap pagi.

“Lihat, Raina. Ada yang bergerak di lukisan itu.”

“Mana, Kek?”

“Itu di sudut kanan atas.”

“Itu kan cicak, Kek.”

“Bukan, itu cahaya.”

“Kakek ada-ada saja. Sudah, ah, Raina mau main di kebun belakang saja.”

Raina memang berkata jujur. Kelana pun berkata jujur. Tapi dalam cerita pendek ini, Raina adalah tokoh bayangan yang tugasnya hanya menemani Kelana agar tak menjadi tokoh yang kesepian. Maka cerita ini akan mengalir dari apa yang baru saja dilihat oleh Kelana, tentang warna merah yang berubah menjadi cahaya, yang menyebar dan berubah lagi menjadi senja yang kemudian mengisi latar waktu pada lukisan itu.

Seperti berada di dalam gedung bioskop, lukisan itu bergerak sebagaimana film yang baru saja diputar, suaranya menggema ke seluruh ruangan dan juga di telinga Kelana. Kursi yang diduduki Kelana bergetar. Ia terperangah, lukisan itu sekarang mempunyai warna-warna lain yang tiba-tiba saja menyebar pada seluruh lukisan. Sosokperempuan tergambar begitu saja di bawah lukisan jembatan itu. Kemudian muncul gerimis yang seperti tak sengaja. Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki datang dengan bunga di tangan. Ia melangkah pelan menemui perempuan itu. Kelana pun diam menyaksikan. Antara percaya dan tidak, dua tokoh dalam lukisan itu pun mengalami percakapan.

Arsip Cerpen di Indonesia