“Sudah lama?” tanya laki-laki itu.
“Aku hampir saja pergi. Kau harus berterimakasih kepada gerimis.”
“Kau takut dengan gerimis?”
“Ayolah jangan memulai pertengkaran.”
“Tenang saja. Aku bawa bunga. Kita tak mungkin bertengkar sore ini.”
Perempuan itu lantas tersenyum. Laki-laki itu kemudian mencium keningnya. Temyata mereka adalah sepasang kekasih. Oh, cinta macam apa yang terjalin di bawah jembatan?
“Jadi, benar kita akan menikah?”
“Tentu saja. Kita adalah pengantin di musim ini, dan cinta murni kita akan menjadi tumbal untuk cuaca yang sedang gelisah.”
Lantas keduanya berpelukan, tepat di hadapan sepasang kodokyang sedang kawin. Senja menghitam. Hujan datang bersama petir. Seekor anjing ikut berteduh. Lidahnya menjulur. Mendadak matanya melotot tajam ke arah sepasang manusia yang sedang bercinta.
“Jadi, ini rumah kita sekarang?”
“Ya. Bukankah manusia surealis hanya membutuhkan ketidakmungkinan? ”
Pada lukisan itu, hujan semakin deras. Langit semakin bergemuruh. Seekor anjing yang sejak tadi menjadi hewan figuran itu tiba-tiba menggonggong. Keras sekali. Tapi sepasang kekasih itu tak peduli.
Sementara Kelana tetap diam menyaksikan lukisan yang bergerak. Kehidupan yang bergerak. Tiba-tiba saja ia merasa sebagian dari dirinya ada di dalam lukisan itu. Ia merasa, sosok laki-laki itu adalah dirinya di masa lalu. Tapi ia masih berpikir, sebenarnya apa yang telah terjadi? Dan siapa perempuan itu sebenarnya?
“Tidak, tidak! Ini hanya halusinasi!”
Kelana menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tutup matanya rapat- rapat, seakan-akan tak ingin membukanya lagi. Ia gelisah. Ia gundah. Mungkin sejenak ia berpikir ingin mati saja.
***
“Kakek, Kakek… Kakek di mana?”
Raina kebingungan. Ia aduk seluruh ruangan. Ia pun akhimya merasa capek dan terduduk pada kursi yang sejak tadi diduduki sang kakek. Dilihatnya seekor cicak yang kemudian pelan-pelan melata melewati gambar sepasang kekasih yang terbaring telanjang di bawah jembatan. Tapi apakah Raina tak menyadari ada sesuatu yang berubah dari lukisan itu?
Raina hanya mengeluh pelan, “Ah, mungkin Kakek pergi ke pasar untuk membeli lukisan lagi.”