Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia

Far sudah menulis pesan kepada Ruin: hari ini orang-orang lebih suka melihat kebun binatang dadakan ketimbang buku.

Biar saja, balas Ruin.

Ruin sudah sering membalas pesan dengan frase: biar saja. Hanya sesekali saja lapak baca itu ramai dan Ruin akan membalas kabar dari Far dengan kalimat agak panjang dan haru: antusiasme mereka bikin kita tambah ingin melakukan sesuatu dalam hidup ini, Far. Semangat ya. Semangat.

Far menguap. Ia sudah tidak memandangi langit, melainkan ke dedaunan kering yang mendadak terangkat ke udara. Angin berembus lebih kencang. Far berpikir, hujan-badai akan segera turun seperti di hari-hari belakangan. Far gegas berdiri. Siap-siap mengumpulkan buku-buku, memasukkannya ke dalam tas dan kantong tambahan. Namun, seorang anak kecil tiba-tiba menjangkau sebuah buku berisi dongeng-dongeng Nusantara. Anak kecil itu melihat kepada Far, ragu-ragu. Ambil saja, silakan dibaca di tempat ya, kata Far lembut.

Itu sebuah keputusan tercepat yang pernah Far lakukan dalam hidup ini.

Kau sengaja menunda-nunda tugas akhirmu, kata ibunya lewat telepon, kemarin. Dari dulu kau biasa mengabaikan hal-hal penting, kata ibunya lagi, lewat pesan. Belajarlah membuat keputusan yang cepat dan tepat, Far, kata ibunya, lagi dan lagi. Bapaknya tidak pernah merisaukan Far, tapi nyaris tiap Far membicarakan tentang uang sewa kamar atau pembayaran SPP, mengeluh soal adik-adik yang butuh ini dan itu. Untuk itu pula Far bekerja apa saja. Lalu, satu hari Rain menawarkan agar bergabung dalam gerakan literasi yang digagasnya bersama teman-teman dan memberi Far uang jalan tiap kali membuka lapak baca di kawasan gedung olah raga, tiap minggu pagi hingga siang.

Far kembali duduk. Ia lihat langit lagi. Tak segelap tadi. Ia perhatikan pohon dan dedaunan. Angin sudah berhenti. Tadi Ruin sempat berpesan: kau harus bertahan di sana segelap apa pun langit hari ini. Dan Ruin benar. Hujan-badai tak jadi turun. Segalanya berubah cerah dengan cepat. Matahari yang bertengger di langit memancarkan cahaya oranye. Satu-satunya yang tidak berubah, buku-buku tetap tak banyak peminatnya. Mereka tampak begitu malang. Sementara, kelompok kebun binatang dadakan itu makin meriah dan ramai saja.

Di antara rasa jenuh dan lelah, Far memelototi buku-buku yang kesepian itu. Kadang Far masuk ke dalamnya. Ke lembar-lembar kertas bau apak. Ruin pasti saja tidak menjemur buku-buku setelah dulu sedikit kehujanan. Far beralih ke buku lain. Sebuah novel. Warna sampulnya merah dengan ilustrasi tubuh perempuan tanpa kepala. Far berpikir iseng, di mana kepala perempuan itu? Jatuh di sebuah tempat? Sengaja dipotong? Dimakan rayap?

Arsip Cerpen di Indonesia