Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia

Kepala dalam novel itu mendadak menyeruak menembus sampul merahnya. Far tercekat dan hampir saja terjengkang. Ini belum pernah terjadi selama ia berhubungan baik dengan buku-buku yang dijaganya. Leher tokoh itu—seorang perempuan dengan bibir bergincu merah dan memiliki sepasang mata pemarah—tersangkut di lubang sampul dan sepertinya sengaja tidak ingin benar-benar keluar dari sana. Matanya menatap lekat-lekat kepada Far. Seolah memberi pelajaran agar Far jangan kebanyakan bermain-main dengan pikirannya. Namun, Far tetap tidak mengerti. Ia justru keburu bertanya, apa yang kaulakukan di sana?

Tokoh perempuan berbibir menyala itu, menyeringai.

Kau mendengarku? tanya Far lagi.

Di sini panas sekali! gerutu tokoh perempuan itu—ah, ya, namanya Solena—sama sekali tidak bermaksud menjawab pertanyaan Far. Ia mendongak ke langit. Cahaya matahari menimpanya. Pantas saja, gerutunya lagi dan memalingkan pandangan ke sekeliling taman yang penuh manusia dan barang-barang dan binatang. Ia tak menyangka dunia luar semeriah ini. Tukang kerupuk menjajakan dagangannya, anak-anak berlarian ke sana kemari, lelaki tua berjalan bolak-balik di atas batu-batu kecil yang disusun rapi di lantai semen, pekerja salon menawari orang-orang untuk melakukan perawatan: spa, pijat, potong rambut, facial, creambath. Namun, seketika hatinya menjadi tawar lagi begitu matanya kembali tertumbuk pada wajah Far yang kosong. Seorang penjaga buku yang tidak bahagia, pikirnya, merana.

Solena, perempuan yang kepalanya keluar dari sampul novel itu, sama tidak bahagianya dengan si penjaga buku dalam kehidupannya. Ia diciptakan oleh laki-laki yang bekerja sebagai tukang jahit. Setiap hari lelaki itu mencatat rumus-rumus dalam dunia jahit-menjahit. Lingkar bahu. Lingkar dada. Lingkar pinggang. Lelaki itu pernah jatuh cinta pada teman kuliahnya sebelum memutuskan menjadi seorang penjahit. Puisi-puisi cinta yang berhamburan di dinding dan kertas-kertas. Puisi-puisi yang lalu mati begitu saja. Perempuan itu tak pernah menyukainya (terlebih puisi-puisi buruk yang tak henti mengganggu itu). Lelaki itu pun pada akhirnya menekuni dunia jahit seperti dilakukan keluarga besarnya secara turun-temurun dan ia melupakan cita-citanya menjadi seorang penyair.

Akan tetapi, cinta tetaplah cinta, bahkan bila ia memberi luka yang dalam sekalipun.

Lelaki itu, di sela kesibukannya menjahit, menulis novel yang ingin ia persembahkan kepada perempuan masa lalunya itu. Novel yang tak pernah masuk ke toko buku dan ia hanya membagi-bagikannya secara gratis ke sejumlah komunitas literasi hingga sampai ke tangan Far yang satu hari secara tidak sengaja membaca pengumuman hibah buku di media sosial. Di halaman depan buku itu, penulisnya membuat catatan kecil: semoga kisah ini sampai kepadamu.

Arsip Cerpen di Indonesia