Barangkali saja, ia membuat catatan sama pada setiap buku yang dikirimkan kepada berbagai komunitas yang telah memberikan alamat. Ia berharap dengan caranya sendiri salah satu buku jatuh ke tangan perempuan itu, bersama seluruh derita di dalamnya, bersama kemuraman jiwa Solena.
Sejujurnya, di mata Far, novel itu sangat buruk—baik teknik penulisan maupun penggarapan karakter tokoh-tokoh. Namun, ia tak pernah melontarkan komentarnya itu kepada siapa pun, tidak juga kepada Ruin yang begitu antusias menerima hibah buku itu, dan Far menyimpannya sendiri sambil sering berpikir tentang seorang penjahit yang menyedihkan, di suatu tempat di ruang jahit yang sempit dengan potongan-potongan kain berserakan di lantai dan rambut makin abu-abu dari hari ke hari dan sebuah novel tak bernasib lebih baik darinya dengan tokoh-tokoh yang saling membenci di dalamnya.
Pada saat Far sibuk dengan pikirannya dan membuat ia terisolasi dari seluruh kejadian di sekitar, Solena menggerak-gerakkan kepala, setengah memberontak, berharap ia bisa membebaskan kepalanya dari lubang sampul buku. Ia sudah terlalu jenuh berada di dalam novel itu. Novel yang tidak pernah dibaca orang—kecuali Far yang satu kali membacanya dengan niat sekadar mengisi waktu kosong. Adakah penderitaan lain yang melebihi itu? Aku mau bebas! teriak Solena. Bebas dari nama pengarangnya yang gila, bebas dari jalan cerita hidupnya yang mengenaskan, bebas dari kesepian bertahun-tahun dan bau jamur di halaman buku yang lembap.
Kau kenapa? tanya Far baru tersadar dari waktu yang—seakan—berhenti tadi dan ia menemukan kepala Solena makin menjulur keluar.
Sudah kukatakan, aku mau bebas, kata Solena sambil menjangkau tubuh Far dan menariknya kuat-kuat hingga gadis itu terperosok ke dalam buku dan setelah itu cepat-cepat ia meloncat keluar. Ia tersenyum licik, menyaru menjadi sosok Far yang duduk menjaga buku-buku. Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel yang tergeletak di atas semen tempat tadi Far duduk. Solena membaca nama Ruin dan ia mengangkatnya.
Far, lelaki itu menanyakan novel yang dikirimnya beberapa waktu lalu. Ia menanyakan apa kisah itu sudah sampai kepadaku. Siapa dia, Far? Memangnya itu kisah apa? Suara Ruin terdengar resah.
Padang, 2018
Yetti A.KA, tinggal di Padang, Sumatera Barat