Bulan Memancar

“Mungkin ibu butuh lebih banyak teman di rumah,” tanggap Latifa.

Jame terdiam sejenak. Sejak ia menikah dengan Latifa dan harus tinggal jauh dari kota kelahirannya, ibunya hanya tinggal bersama ayahnya. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara yang lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan pergi memancing atau berkebun.

“Mungkin rasanya seperti kita,” ujar Jame lirih.

Kalimat pendek Jame yang biasa-biasa saja itu segera membekas di hati Latifa. Bagaimanapun Jame telah mengatakan sesuatu yang menggambarkan suasana hatinya malam itu.

Bulan memancar dan langit sedang bersih di malam purnama itu. Tapi di sudut beranda, remang saja. Cahaya lampu dari ruang tamu hanya segaris tipis cercah yang menerobos lewat gorden jendela yang sedikit terkuak. Cahaya bulan sepertinya belum sanggup menerobos kelebatan daun-daun pohon tanjung dan atap beranda yang cukup rendah.

“Jadi, jenis apa yang menurutmu tidak terlalu berisiko dengan alergimu?”

Latifa menyarankan seekor russian blue. Tetapi boleh juga jika mendapatkan seekor javanese muda yang manis dan berwarna coklat.

“Seperti kucing kesayangan ibu,” tegas Latifa.

Jame setuju saja dengan saran Latifa. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Latifa karena merasa tidak tahu sama sekali soal kucing.

Baca juga: Arloji – Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 26 November 2017)

“Bisa kubayangkan, bagaimana senangnya Hilda kalau kita benar-benar memiliki seekor kucing. Kau ingat, kan? Sewaktu anak itu merengek, tidak mau pulang dari rumah tetangga gara-gara seekor kucing. Padahal hanya kucing kampung biasa.”

“Iya, tentu aku ingat. Tapi sepertinya, anak itu tidak akan kemari lagi.”

“Ada apa? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya bersamamu.”

Latifa berusaha tersenyum. Selepas menikmati kopinya beberapa sesapan, ia menceritakan sesuatu dengan suara yang berat.

“Dari yang bisa kutangkap, ibunya tidak pernah rela kalau anak itu nantinya akan lebih dekat dengan kita ketimbang dengan orang tuanya sendiri.”

“Apa itu bukan kekhawatiran yang berlebihan?”

“Aku tidak tahu, Jame. Kita tidak akan pernah tahu jenis perasaan macam apa itu, sebelum kita benar-benar menjadi orang tua,” jawab Latifa, sebelum kemudian beranjak ke peraduan.

Arsip Cerpen di Indonesia