Bulan Memancar

Setelah peristiwa itu, Jame hanya bisa menanggung kegetiran: ia kehilangan salah satu testisnya. Sementara, satu yang lainnya nyaris tidak berfungsi dan harus ditangani lebih lanjut oleh seorang dokter. Di kemudian hari, di usianya yang matang, ketika Jame bertemu Latifa, ia menceritakan semuanya. Latifa sempat menghilang beberapa hari, namun kembali muncul di hadapan Jame dan mengatakan sesuatu yang membuat hubungan mereka berujung di pelaminan.

“Kita harus percaya pada keajaiban Tuhan,” ujar Latifa saat itu. “Setidaknya, kita akan memiliki seorang anak, kan?” Jame berdoa semoga keajaiban benar-benar akan menghampiri mereka berdua.

***

“Kucing itu tidak akan pernah kembali,” ujar Latifa.

Jame berusaha menanggapi dengan tenang. “Menurutku, kita akan segera mendapatkan penggantinya.”

Itu empat purnama berikutnya sejak mereka merencanakan untuk memelihara kucing. Mereka telah mendapatkan seekor kucing dari jenis russian blue. Latifa memberi nama kucing itu Russi. Russi adalah seekor kucing jantan yang manis dan elegan dan menjadi sedemikian dekat dengan Latifa. Jika Jame pergi ke kantor atau sedang keluar kota, Latifa tidak terlalu merasa kesepian lagi untuk beberapa waktu. Tapi pada sebuah sore yang hujan, kucing itu menghilang dan tidak pernah muncul lagi pada hari-hari berikutnya.

Baca juga: Bero dan Keluarganya – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 22-23 Juli 2017)

Latifa dan Jame telah melakukan segala upaya. Mereka menempelkan poster di tiang-tiang listrik di semua gang di kompleks perumahan itu. Poster itu mereka cetak sendiri di atas sebuah kertas HVS berukuran A4. Dengan perasaan sedih, Latifa telah memilih sebuah foto seekor kucing, Russi, yang tengah berpose di depan sebuah laptop. Di atas foto itu, Latifa menuliskan sebuah kalimat singkat dengan huruf-huruf kapital berjenis tebal: “RUSSI TELAH PERGI”. Tidak lupa, Latifa juga mencantumkan nomor yang bisa dihubungi jika ada seseorang yang mungkin pernah melihat kucing itu pada suatu hari. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengumum kannya di akun media sosial yang mereka miliki.

“Kenapa tidak pergi ke panti asuhan saja?” tanya Latifa tiba-tiba.

“Kau serius?” Jame balik bertanya.

Ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir dalam diri Jame. Meskipun terus berharap pada keajaiban, mereka juga pernah merencakan hal seperti itu sebelumnya.

“Kita akan memiliki seorang anak dengan cara seperti itu.”

Arsip Cerpen di Indonesia