Para Pahlawan Gaib

Aku hanya mendengarkan, tidak mencoba membantahnya. Apalagi ketika Paman Fuad kembali memuji-muji latihan militer yang pernah diperolehnya dari Dai Nippon. Ia lalu bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia yang disingkat API pada zaman agresi militer Belanda. Meski demikian, satu-satunya foto berseragam yang terpasang di ruang tamu rumahnya adalah fotonya dengan seragam veteran sedang menerima lencana kehormatan dari bupati pada upacara bendera 17 Agustus 1983. Foto yang tampaknya sudah direpro di studio foto itu terpigura rapi dan tergantung di dinding papan yang merapuh bersama foto-foto lain.

Ayahku belakangan menambahkan bahwa kebanyakan bom yang dijatuhkan Zero hanya mengenai badan jalan, hutan, dan kebun-kebun tak berpenghuni atau jatuh di kolong [2] bekas tambang dan rawa-rawa. Sebuah bom—yang bentuknya bisa kau lihat di bungkusan Mie Telor Cap “Atom”—jatuh di samping pasar ikan, kata ayah. “Tepat di toko pancing Bong Mo sekarang. Tempat itu dulunya rawa-rawa. Istri Ai Cai Siong, pemilik warung kopi, sampai menjerit histeris dan jatuh pingsan saat bom yang cukup besar itu mendarat di sebelah warungnya.”

Tetapi, ayahku lupa, kapan persisnya bom itu disingkirkan setelah bertahun-tahun lamanya dibiarkan saja tergeletak di sana dalam posisi setengah menyamping, dengan moncong terbenam ke dalam lumpur yang mengeras. Anak-anak, termasuk paman bungsuku Ahmadi, kemudian suka naik ke badan bom itu dan bermain-main di atasnya. “Kami sering memukul-mukul badan bom dengan kayu atau batu. Bunyinya trang-trang-trang nyaring. Untung saja tidak meledak,” kata Paman Ahmadi sambil menarik napas lega ketika aku bertanya.

Yang kemudian membuatku tercengang (dan kukira juga sedikit bangga) adalah saat aku mengetahui bahwa salah satu dukun yang menanam jimat-jimat penghalau serangan udara Jepang itu tak lain almarhum kakekku sendiri!

***

TIDAK banyak yang kuketahui tentang Atok. Ya begitulah kami cucu-cucunya memanggil beliau. Maklum, ketika beliau meninggal, aku baru duduk di kelas IV SD. Meski begitu, aku masih ingat bagaimana nyaris saban hari orang-orang datang ke rumah meminta bantuan kakekku. Mereka yang sakit menahun, kena santet, kerasukan, juga yang berat jodoh atau tak kunjung punya anak. Dan Atok mengobati mereka dengan segelas air putih yang dijampi-jampi.

Baca juga: Ibuku Perempuan Mong Kap San – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Februari 2018)

Kemudian, kudengar dari seorang tua di kampungku bahwa Atok adalah anggota tentara gaib. Pasukan ini syahdan dibentuk oleh Kolonel F. Manusama, komandan TRI Resimen Bangka, yang memimpin pertempuran termahsyur di Tanjung Berikat. Ketika itu, sang kolonel baru saja diangkat sebagai komandan TKR Bangka oleh Komandan Resimen I Divisi II TKR Palembang Kolonel Bambang Otoyo.

Sadar jika kekuatan mereka tidak seimbang dengan tentara NICA, baik dari segi persenjataan maupun jumlah personel, Manusama mencoba memanfaatkan segala pontensi yang ada dengan mengumpulkan para dukun dan pemuda yang memiliki ilmu kesaktian. Pasukan itu dipimpin oleh Bakar Besak, sosok yang sudah melegenda di seluruh wilayah Belinyu, bahkan Pulau Bangka. Ia adalah dukun terkemuka di daerah Pejam pada masa itu. Besak dalam bahasa Melayu Bangka artinya besar. Namun, jangan dikira ia seorang lelaki berbadan besar. Justru sebaliknya—menurut kesaksian orang-orang kampungku yang mengaku pernah bertemu dengan beliau—Bakar Besak adalah seorang lelaki kurus kecil.

Arsip Cerpen di Indonesia