Nek Gergasi yang juga sering disebut Nek Yot oleh orang-orang kampung adalah sosok hantu pemangsa bayi berwujud nenek-nenek berambut panjang yang memiliki kuku dan taring runcing. Biasanya ia akan muncul di suatu kampung jika ada kelahiran bayi karena mencium bau amis darah. Waktu SD, temanku Hasan mengaku pernah mendengar tawa Nek Gergasi.
“Ia cekikikan di samping dapur kami. Adik kami yang baru lahir menangis tiada henti, Mak kami juga menangis. Ayahku mengokang senapan angin. Nek Gergasi itu baru pergi setelah Mang Amrin, tetangga sebelah rumah kami, datang dan membacakan ayat-ayat suci,” tukasnya. Namun, tak banyak dari kami yang percaya ceritanya ketika itu. Maklum, Hasan terkenal sebagai pembual. Ia bahkan berani membohongi ibunya sendiri dengan menjajankan iuran sekolahnya. Saat ketahuan, ia dihajar oleh ayahnya dengan ekor ikan pari hingga melolong-lolong.
Baca juga: Kakekku yang Lain – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 14 Mei 2017)
Toh demikian, selain Burung Kuwok yang suka terbang sungsang di malam-malam bulan mati utuk menyerap aura bayi, hantu yang paling kerap meneror warga kampung adalah Mawang. Mereka tinggal di hutan-hutan lebat dan kedatangannya selalu ditandai oleh angin yang tiba-tiba berembus kencang serta bau sangat menyengat. Kendati tak suka mengganggu manusia secara langsung, makhluk dengan mulut melintang vertikal di tengah wajah dan bergigi runcing ini gemar memangsa ternak. Sering kali di pagi hari warga kampung kami menemukan ayam-ayam peliharaannya tercabik-cabik, juga kambing bahkan sapi. Hanya saja ayam-ayam peliharaan kami tidak pernah diganggu.
“Kakekmu itu disegani oleh Mawang karena ia pernah berjuang bersama mereka pada masa Agresi Militer Belanda II,” ujar ayahku mengulum senyum. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa pertempuran-pertempuran yang melibatkan makhluk-makhluk menakutkan itu. Namun, beberapa tahun silam aku sempat membaca wawancara dengan seorang blasteran Indo-Belanda mantan tentara NICA yang memilih menjadi WNI di sebuah harian lokal. Kepada wartawan, si mantan NICA itu mengaku bahwa arak-arakan truk mereka menuju Pangkapinang pernah diserang api-api terbang yang dikenal oleh orang-orang kampung kami sebagai Hantu Pulong.
Mau tahu makhluk-makhluk gaib apa saja yang paling tangguh di medan perang?
Mereka adalah Cindai yang berwujud seperti singa raksasa, Hantu Lelep yang mirip lutung, dan Hantu Berasu dengan pasukan anjing silumannya. Jatuhnya korban begitu banyak di pihak Belanda sekalipun mereka telah dibekali persenjataan modern pada pertempuran di Kilometer 12 Petaling, kata Paman Fuad, adalah berkat keganasan tiga jenis makhluk gaib itu.
“Ketika Belanda pertama kali mencoba merapat ke Pelabuhan Muntok, mereka juga dihalang-halangi Hantu Lelep dan Hantu Buyut hingga terpaksa berbalik haluan. Bukan lantaran ditembaki secara gencar oleh TRI seperti cerita banyak orang. Itu tidak benar! Mana mungkin dengan senjata seadanya TRI bisa menghadang kapal-kapal perang Belanda yang begitu canggih?” tukasnya, lalu tertawa kecil. “Ombak Selat Bangka yang semula tenang waktu itu tiba-tiba bergolak hebat sampai air laut berpusar-pusar.”
Baca juga: Perihal Orang-orang China di Belijong – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 29 Januari 2017)
Selain disuruh mencuri persenjataan dan bahan makanan dari gudang-gudang Jepang, makhluk-makhluk ini menurut pamanku juga ditugasi untuk mengganggu orang-orang Tionghoa yang merayakan kemenangan sekutu dengan gegap gempita, baik mereka yang berdiam di ruko-ruko di kawasan pasar maupun di perkampungan-perkampungan China.
“Awalnya sih hanya untuk menakut-nakuti karena banyak orang China dianggap pro-Belanda. Tetapi, makhluk-makhluk itu, kau tahu, sulit dikontrol. Tanpa bisa dicegah, mereka akhirnya mulai memangsa ternak-ternak babi, kemudian menculik bayi-bayi dan anak balita. Hal ini membuat orang-orang Tionghoa ketakutan dan kalang kabut.”