Para Pahlawan Gaib

Pao An Tui yang memang sengaja dibentuk oleh masyarakat Tionghoa untuk melindungi nyawa maupun harta benda mereka pun kemudian disiagakan. Tetapi, mereka malah terlibat kontak senjata dengan TRI, yang dengan segera meluas ke hampir seluruh pelosok Bangka. Awalnya berbekal persenjataan yang diberikan oleh NICA, Pao An Tui berhasil meraih sejumlah kemenangan di Pangkalpinang. Namun, keadaan langsung berbalik dengan cepat begitu tentara gaib diterjunkan tengah-tengah medan pertempuran.

“Di Belinyu, tepatnya di Parit 40, Parit 11, Parit 3 Bubus, dan Remodong, mereka diserang dengan buas oleh-oleh makhluk-makhluk gaib itu hingga lari kocar-kacir menyelamatkan diri ke hutan-hutan dan di sana kembali menjadi sasaran empuk cakar dan taring Mawang. Puluhan personel Pao An Tui tewas mengenaskan dengan wajah dan tubuh tercabik-cabik,” cerita Paman Fuad yang mengaku pada saat pertempuan Palagan 12 berlangsung, dirinya sedang terserang malaria.

Baca juga: Kakek dari Tong San – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Desember 2016)

Aku pernah mencoba mengonfirmasi kebenaran kisah ini kepada orang-orang Tionghoa di Parit 3, tetapi tidak ada seorang pun yang mau bercerita. Hanya nenek teman lamaku Fuk Ngian yang berkenan berkomentar singkat: “Zaman itu memang banyak setan, Nak!”

Ah, tentu tak ada yang tahu berapa banyak makhluk-makhluk gaib itu yang turut gugur dalam berbagai pertempuran. Itu pun jika kata “gugur” boleh dipergunakan bagi mereka. Ya, setelah Bong Djun Sen, pimpinan tertinggi Pao An Tui di Bangka, memerintahkan pasukannya untuk menyepuh sebagian peluru mereka dengan cairan emas dan perak.

Konon ketika itu dewa-dewa China juga diundang dengan khidmat di sejumlah kelenteng agar ikut turun berlaga. (*)

 

Jogjakarta, akhir Maret 2017

CATATAN:

[1] Perusahaan Penambangan Timah yang beroperasi di Bangka pada masa kolonial Belanda.

[2] Genangan air berbentuk danau yang tercipta akibat penggalian timah.

[3] Orang Melayu Laut yang menetap di Pulau Bangka. Mereka dianggap sebagai penduduk asli Bangka. Disebut Urang (orang) Lom karena mereka menganut animisme.

[4] Dalam sebuah esainya yang terbit menjadi buku belum lama ini, seorang penulis dan jurnalis kelahiran Bangka pernah memfitnah Pao An Tui Bangka sebagai tentara Tionghoa yang hendak mendirikan sebuah negara merdeka yang didominasi etnis China seperti Singapura.

Arsip Cerpen di Indonesia