Tak seorang pun pernah melihatnya lagi selepas peristiwa penghadangan TRI terhadap iring-iringan pasukan NICA yang bertolak dari Muntok menuju Pangkalpinang di Bukit Ma Andil, perbatasan Desa Petaling dan Cengkong Abang, Mendo Barat, yang bertahun-tahun kemudian akan dikenang sebagai Peristiwa Palagan 12. Ia lenyap begitu saja, seolah-olah ditelan bumi. Ada yang mengatakan ia menyepi di Gunung Maras atau Rimba Bulin, ada pula yang meyakininya berada di Bubung Tujuh, tujuh buah rumah pertama leluhur Urang Lom [3] yang lokasinya tak pernah bisa diketahui.
“Wak Bakar menghilang selepas penyergapan TRI terhadap tentara NICA di Kilometer 12 itu. Persisnya setelah sahabatnya, Muhammad Nor, gugur ditembak Belanda,” kata si orang tua yang kupanggil Amang.
Muhammad Nor juga tercatat sebagai pimpinan TRI Kompi Petaling. Konon ia memiliki ilmu kebal dan ilmu ngelimun yang membuat sosoknya tak terlihat oleh pasukan NICA. Tetapi, dalam buku Palagan 12: Api Juang Rakyat Bangka karya Ichsan Mokoginta Dasin dan Dody Hendriyanto terbitan CV Central Media Printing, Pangkalpinang (2009), dikatakan ia sebetulnya gugur dalam pertempuran sebelumnya di Kilometer 16 pada 14 Februari 1946, bukan di Kilometer 12. Sehingga ia tidaklah tercatat sebagai salah satu dari dua belas anggota TRI yang gugur pada 12 Rabiulawal 1367 Hijriah, tepat pukul 12.00 siang itu.
Diceritakan dalam buku ini: Dengan mengambil posisi paling depan di bawah pohon jengkol (ada yang menyebut pohon rukam), ia memuntahkan peluru-pelurunya ke rombongan pasukan NICA yang memasuki garis pertahanan Kilometer 16 Petaling. Serangan yang tak diketahui dari mana arah datangnya itu membuat tentara Belanda kocar-kacir. Namun, serdadu NICA mengerahkan serangan balasan dengan gencar ke barisan anak buahnya dan membuat pasukannya terdesak hebat. Dalam keadaan panik itulah, salah seorang anak buahnya lantas berteriak memanggil namanya agar segera mundur bersama-sama. Tetapi celaka, rupanya inilah pantangan bagi kesaktiannya! Ketika namanya disebut, segala kehebatan ilmu ngelimun dan ilmu kebalnya pun luntur seketika sehingga sosoknya langsung terlihat oleh musuh. Ia langsung diberondong senapan tentara NICA.
Baca juga: Semua Ayah Itu Sama – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 13 Agustus 2017)
Muhammad Nor dimakamkan oleh penduduk setempat di TPU Desa Petaling dan pada 8 November 1973 jenazahnya dipindah pemerintah ke Taman Makam Pahlawan Padma Satria, Sungailiat. Tetapi, ada banyak anggota tentara gaib yang tak pernah tercatat sebagai Bunga Kusuma Bangsa, bahkan tidak pernah dimakamkan….
***
TUNGGU, mereka bukanlah para pejuang tanpa nama seperti yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar dalam puisinya Pahlawan Tak Dikenal. Malahan mereka sebenarnya sama sekali bukan manusia.
Ya, selain para dukun dan pemuda yang menguasai berbagai kesaktian, konon atas perintah Kolonel F. Manusama dengan persetujuan Masyarif Datuk Bandaharo Lelo (bekas ketua Syu Sangi Kai) yang ketika itu ditunjuk sebagai Residen Bangka, Bakar Besar, juga merekrut beragam jenis makhluk gaib yang berkeliaran di seantero pulau kami seperti Mencaden, Mawang, Cindai, Anton atau Hantu Kulung, Hantu Lelep, Hantu Berasu, sampai Nek Gergasi, hantu yang paling aku takuti semasa kanak-kanak dan kerap menyambangiku lewat mimpi buruk.