Sepotong Roti Hijau

Darsuni bergidik tiap membayangkan itu. Mungkin, tikus sebesar itu bahkan doyan jempol kaki dan jari-jarinya yang lain. Bagaimana jika ia terbangun di suatu subuh dan tahu-tahu kedua telapak kakinya telah rata tanpa satu pun cuatan jari? Ya ampun, itu mengerikan sekali!

Tak seperti biasa, kali itu wajah ayahnya berseri-seri, menambah terang ruangan sempit yang cuma berpenerangan bohlam lima watt itu. Bohlam lima watt yang tak lagi baru. Mungkin besok atau lusa benangnya putus. Atau paling lama seminggu, jika beruntung. Kau bisa membayangkan redupnya.

“Lihat, apa yang Ayah bawa?” ujar lelaki itu selagi masih di ambang pintu sambil mengangkat sebelah tangannya.

Dan sepasang mata Darsuni bukannya langsung memaku sesuatu yang berayun-ayun di tangan ayahnya, melainkan justru senyumnya. Senyum itu merekah lebar sekali. Seperti bunga yang mekar sempurna. Dan gigi-gigi kuning yang menjadi makin kuning gelap oleh cahaya bohlam itu seperti lebah-lebah yang tengah mengisap nektar.

“Ayah bawakan kalian roti!” lanjut lelaki itu penuh semangat dan langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong plastiknya.

Baca juga: Hujan Belum Turun di Teluk Kao – Cerpen Deasy Tirayoh (Media Indonesia, 05 Agustus 2018)

Dan kalian adalah kependekan dari Darsuni serta ketiga adiknya yang sudah tak menghuni perut ibunya. Dua perempuan dan satu lagi yang paling kecil laki-laki. Ayahnya bahkan lupa tak menutup kembali pintu saat menyodorkan roti yang masih terbungkus plastik bening pada Darsuni. Darsuni menerimanya. Tak antusias, tetapi juga tak terkesan tidak tahu terima kasih. Itu roti! Benar-benar roti! Sementara ketiga adiknya yang beringus langsung mengeroyoknya dengan tatapan ingin tahu sekaligus … lapar.

“Kau membelinya? Sayang sekali. Kita bahkan tak punya beras.”

Itu suara ibu Darsuni yang pendiam. Kedua tangannya tengah sibuk. Satu memegang jarum, satu lagi memegang benang nyaris di ujungnya. Kedua tangan itu terangkat ke arah bohlam gantung dan sepasang matanya memicing-micing, berusaha memasukkan benang ke lubang jarum.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku mendapatkannya.”

Aku mendapatkannya. Darsuni sudah bisa menebaknya. Itu juga penghalusan untuk menemukan di suatu tempat lalu memungutnya. Dan, suatu tempat. Itu juga tertebak dengan mudah. Tempat ayahnya berkecimpung nyaris sepanjang waktu, dari hari ke hari bahkan tahun ke tahun. Lautan sampah berkubik-kubik yang mengepung sekotak rumah papan mereka dan rumah-rumah serupa lainnya.

Arsip Cerpen di Indonesia